Pasti kalian pernah dong ketika belajar sesuatu yang baru tapi ketika belajar pikiran malah kemana-kemana. Belajar fikih eh pikirannya malah ke ayang. Belajar nahwu yang di otaknya malah waifu-waifuan.
Itu ada penjelasan ilmiahnya loh.
Ketika mempelajari hal baru pancaindra kita akan mengirim informasi yang baru kita pelajari ke otak sadar dan otak sadar ini akan memproses informasi tersebut. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, otak bawah sadar juga akan mencari dan mengirim informasi yang “serupa” atau mirip dari “database” (alam bawah sadar) kita ke otak sadar.
Nah yang menjadi masalah adalah ketika otak bawah sadar kita tidak punya informasi tentang yang sedang kita pelajari, maka otak bawah sadar kita akan tetap mengirim informasi walau tidak sesuai dengan yang sedang kita pelajari dan yang lebih parahnya lagi, otak sadar itu lebih dominan mengelola informasi yang dikirim oleh otak bawah sadar ketimbang informasi yang dikirim oleh pancaindera.
Saya kasih contoh, kalian sedang belajar fikih misalnya. Nah, fikih ini hal baru buat kalian, belum pernah kalian pelajari sebelumnya,
Karena di otak bawah sadar kalian tidak ada informasi tentang fikih ini, yang ada cuma drakor, anime, bola, sama Mobile Legend maka pikiran bawah sadar akan mengirim informasi-informasi ini ke otak sadar padalah tidak ada kaitannya.
Maka ketika kalian belajar fikih pikiran kalian akan melayang kemana-mana “Squid Game 2 ada gak yah? seru banget soalnya, mudah-mudahan Shanks di film RED seperti yang gua ekpektasikan, MU tahun ini harus bisa juara aamiin, kapan yah gua bisa mithycal glory?”.
Terus bagaimana agar kita bisa fokus ketika belajar hal baru?
Untuk meminimalisir pikiran melayang ketika belajar hal baru kita bisa mencari informasi yang berkaitan dengan hal baru yang akan kita pelajari tersebut agar tersimpan di pikiran bawah sadar.
Yang kemudian jika sedang belajar otak bawah sadar akan mengirim informasi yang serupa dengan yang sedang kita pelajari yang membuat kita fokus ketika belajar dan memikiran hal lain menjadi berkurang.
Itulah mengapa guru kita sering bilang “Nak, coba pelajari atau baca-baca buku yang akan dipelajari di kelas nanti biar ada gambaran” Atau yang maknanya serupa dengan itu.
Jangan lupa sebar kebaikan.
Ta’liq (Muhammad Said Anwar):
Kondisi seperti ini bisa dibilang “blank” atau kosong. Itulah kenapa sebelum kita belajar hal baru, kita disuruh untuk mulai dari dasar untuk menyerap konsep atau gambaran umum dari yang ingin kita pelajari. Biasanya level untuk pemula (mubtadi’) fungsinya adalah memunculkan gambaran umum saja. Nanti setelah kita memiliki gambaran umum, barulah kita mengerti kenapa ada bab A, B, C, dan lain sebagainya dalam ilmu itu. Juga kenapa bab itu urutannya demikian.
Ada sebuah diktum yang dilontarkan oleh Syekh Jamal Faruq:
من قرأ الحواشي ما حوى شى # من لم يقرأ الحواشي ما حوى شى
“Barangsiapa yang membaca hasyiyah, maka dia tidak akan mendapatkan apapun. Barang siapa yang tidak membaca hasyiyah, maka dia tidak akan mendapatkan apapun”
Sebelum saya menjelaskan maksudnya, saya ingin spill sedikit tentang kitab hasyiyah. Kalau kita belajar kitab, di sana ada tingkatan berdasarkan keluasan pembahasannya. Pertama, ada kitab yang isinya penuh kesimpulan dan ada sedikit penjelasan tapi sifatnya terlalu padat, sehingga kita tidak menemukan “rahasia” yang ada di balik poin penting itu. kitab jenis ini namanya kitab yang berkategori matan. Kedua, kitab syarah. Kata syarah sendiri bermakna “penjelasan”. Kitab ini merupakan bentuk penjelasan dari kitab matan. Penjelasannya, masih melengkapi bagian dari yang dibutuhkan. Ketiga, kitab yang pembahasannya lebih mendalam dan meluas daripada syarah, itulah kitab hasiyah. Kitab yang masuk kategori ini, bukan hanya melibatkan satu ilmu tertentu, apalagi ilmu yang menjadi “tuan rumah” dari kitab itu. Tapi, melibatkan ilmu lain.
Saya berikan sebuah contoh. Kalau kita membaca kitab hasyiyah dari Al-Kharidah Al-Bahiyyah, memang di sana dijelaskan bagaimana isi dan intisari ilmu dari kitab yang bersangkutan. Tapi, di sana juga dijelaskan secara detail makna per kata, bagaimana susunannya dalam kaca mata ilmu nahwu, bagaimana tajamnya makna yang dikandung menggunakan ilmu balaghah, mengidentifikasi jenis wazan syair yang dipakai menggunakan ilmu ‘arudh, memaparkan aspek rasionalitasnya menggunakan ilmu mantik dan maqulat, dan lain sebagainya. Memang kitab hasyiyah tempat bersatunya para ilmu seperti para super hero membentuk kesatuan yang bernama Avengers.
Kembali kepada diktum Syekh Jamal Faruq. Pada bagian pertama beliau mengatakan, kalau kita membaca hasyiyah, maka kita tidak mendapatkan apa-apa. Sebaliknya, di poin kedua, beliau mengatakan kalau kita tidak membaca hasyiyah, maka kita tidak mendapatkan apa-apa. Dibaca saja tidak dapat, apalagi tidak dapat. Bagaimana maksudnya? Di sini, kedua bagian tersebut memiliki dua konteks berbeda. Saya akan uraikan:
Pertama, kalau membaca hasyiyah, tidak dapat apa-apa. Ini berlaku kepada pemula yang baru belajar. Sebagaimana yang sudah diuraikan kalau kitab hasyiyah itu berisi integrasi atau gabungan ilmu yang levelnya agak tinggi. Pemula yang mencoba membuka hasyiyah, dia tidak akan menemukan apa-apa. Sebab, ketika dia sedang membaca hasyiyah, otak bawah sadarnya mencari informasi yang tersimpan dalam memorinya, terlebih lagi jika dia tidak memiliki memori tentang matan yang sedang dibahas dalam hasyiyah itu. Jika dia tidak menemukan apa-apa, bisa saja dia malahan tidak paham atau salah paham. Makanya pemula disuruh membaca kitab dasar, supaya informasi dasar yang dibutuhkan suatu hari nanti, bisa ditemukan oleh otak bawah sadar ketika mencarinya.
Kedua, jika tidak membaca hasyiyah, maka dia tidak dapat apa-apa. Ini berlaku untuk orang yang levelnya agak di atas. Sebab, jika dia membaca kitab yang “itu-itu” saja, maka dia hanya melihat kulit-kulit dari ilmu itu, tidak melihat bagaimana sisi terdalam ilmu tersebut. Untuk orang yang levelnya berada di atas, sudah berbeda. Sebab, jika dia dibilang “tidak mendapatkan apa-apa”, sebenarnya dia sudah memiliki sesuatu yang membuatnya naik di level atas. Namun, dia tidak mendapatkan sesuatu yang membuat levelnya naik lebih atas lagi. Maka ketika dia tidak membaca hasyiyah, dia tidak mendapatkan sesuatu yang lebih lagi dari yang sudah dia dapatkan saat ini. Juga, ketika orang level ini membaca hasyiyah, dia bisa paham karena dia sudah memiliki informasi dasar yang bisa ditemukan oleh otak bawah sadar ketika orang ini sedang membaca dalam keadaan sadar.
Wallahu a’lam








