Buku kiri itu selalu dilabeli sebagai buku tabu yang perlu disegel rapat-rapat. Istilah plus stereotip itu bermula sejak Orde Baru; di mana buku yang dicap “kiri” ini disita, dibakar, dan diamankan. Karena dianggap sebagai ancaman ideologis. Hal tersebut masih berlanjut hingga era Reformasi.
Muatan yang identik dengan “kiri” itu selalu diidentikkan dengan sosialisme, marxisme, dan leminisme, atau ide progresif yang mengkritik kapitalisme, kesenjangan sosial, dan penindasan kelas.
Kendati istilah “kiri” itu sarat dengan konteks politik, ada juga buku “kanan” yang cenderung konservatif; mendukung kapitalisme, liberalisme ekonomi, hierarki sosial, dan lain sebagainya. Seolah, “kiri” datang sebagai anti-tesis dari “kanan”.
Tapi, maraknya “kiri-kanan” itu digunakan, dalam beberapa konteks justru membuat kedua arah itu terlepas dari konteks politik era Orde Baru. Misal, buku kiri itu diidentikkan dengan buku radikal dan ekstrim keras, sedangkan buku kanan itu diidentikkan dengan buku liberal dan ekstrim lembut.
Apapun arahnya, mau itu kiri, kanan, atas, atau bawah, yang jelas Islam meridhai sikap moderat. Sikap moderat tidak harus kiri, kanan, atau tengah. Moderat bukan koordinat, tapi ketepatan sikap; meletakkan sesuatu pada tempat, konteks, dan momentum yang sesuai. Sehingga lahir nilai-nilai kebijaksanaan.
Awal Masalah
Kendati Islam mengharuskan kita mengambil sikap moderat, bukan berarti kita anti dengan buku yang berada di haluan arah lain. Karena membaca pemikiran atau alur bernalar, tidak mengharuskan kita setuju. Minimal, meragukan. Kita membaca untuk menimbang, bukan untuk setuju atau menolak.
Sikap seperti ini sangat diapresiasi dan memang begitu seharusnya. Hanya saja, tidak semua pembaca siap. Khususnya untuk masuk ke dalam tahap adopsi pemikiran dan cara bernalar.
Siap atau tidaknya pembaca diukur dengan; 1) Apakah dia bisa menimbang setiap detail pemikiran itu dengan kritis? 2) Apakah dia bisa memahami alur pemikiran itu secara fundamental dan detail? 3) Apakah dia bisa menguji setiap konsekuensi yang ditimbulkan dari pemikiran itu? dan 4) Apakah dia bisa mengukur dosis sampai mana batas konteks dan momentum pemikiran itu bekerja?
Untuk memiliki nalar metodologis-kritis itu butuh perjalanan panjang; butuh kompetensi yang sudah tahan banting di labolatorium.
Nah, apa jadinya kalau ada orang newbie (red: baru) belajar, tapi langsung disuguhkan buku dengan segala jenis arah itu? Akan terpukau. Minimal, ditelan mentah-mentah. Padahal, apapun pemikirannya, tetap perlu diuji. Termasuk tulisan ini.
Ibarat belum selesai ospek, tapi sudah berniat memberikan kontribusi luas. Perlu kita ingat, niat yang tulus harus selaras dengan kompetensi. Karena inkompetensi, selalu menimbulkan kerusakan lebih, alih-alih mewujudkan masyarakat ideal. Penting betul pemahaman yang benar sejak awal.
Tidak salah bermimpi, tapi pastikan jalan untuk mewujudkan mimpi itu realistis dan sesuai dengan kemampuan manusia normal.
Problem Solving
Sebenarnya, pemecahan masalah itu sudah sering kita dengar, walaupun dalam sebagian keadaan, ia masih seperti puzzle yang butuh penyelesaian; belajar.
Anda tidak salah baca, memang belajar solusinya. Hanya saja, perlu diperjelas; belajar apa dan bagaimana? Belajar yang dimaksud, bukan cuman memperkaya gudang ingatan. Tapi, membentuk pola pikir dan mindset yang tertata.
Membentuk pola pikir itu harus belajar kepada ahli. Karena di sana akan ada trial and error. Setiap murid mencoba berekperimen dengan pikirannya, pasti akan diarahkan oleh gurunya. Dalam proses inilah nalar murid “dibengkel” sampai menjadi kompeten.
Khusus dalam konteks Al-Azhar, murid itu diberikan peta belajar, agar dia memiliki cara pandang dan bernalar yang diwarisi oleh para ulama. Itulah fungsi ikut talaqqi (red: kajian keilmuan) dan dibarengi dengan muthala’ah (red: membaca).
Intinya, selama kita baru, minimal sadar diri; kalau sejak awal itu harusnya belajar. Tidak perlu berpikir mau membabat orientalis, orang ateis, mau jaga umat, dan seluruh tindakan heroik itu. Selama kita belum selesai dengan diri sendiri, masih kagetan, masih keteteran, bagaimana mau tampil jadi orang yang banyak menyelesaikan beban orang lain?
Bukan melarang untuk idealis, hanya saja langkah terburu-buru lebih banyak tidak masuk akalnya dan berujung halu. Apa gunanya idealisme sebesar semesta kalau langkah dan prosesnya saja tidak realistis? Kalau kebenaran saja tidak berpihak di jalan ini, lalu siapa kita yang tetap memaksakan?
Isykâl
Mungkin akan ada bertanya: “Sejak awal kita harus menimbang, bukan percaya atau menolak dulu. Tapi, kenapa kita harus ikut pada metode tertentu untuk menimbang, alih-alih menimbang metode itu lalu mengikutinya?”
Begini, dalam sistem bernalar, sebuah kebenaran harus disandarkan kepada kebenaran yang lebih promordial dan fundamental. Lebih sederhananya, sebuah klaim atau spekulasi harus bersandar kepada sesuatu yang dipastikan kebenarannya.
Misalnya, untuk membuktikan kebenaran bahwa setengah kue lebih kecil dibanding keseluruhan kue, perlu bersandar kepada proposisi yang lebih dasar: “Setengah lebih kecil daripada keseluruhan.” Ini adalah proposisi paling dasar karena berisi pola kebenaran yang sifatnya pasti. Karena memberikan pola yang sifatnya pasti, maka kebenarannya juga pasti. Ini disebut dengan aksioma (dharȗriy).
Kenapa tidak diuji? Aksioma itu tidak perlu dibuktikan. Karena seandainya aksioma butuh kepada pembuktian, maka proses pembuktian itu akan terus berjalan tanpa ujung. Jika proses ini berjalan tanpa ujung, maka terjadi tasalsul. Dan itu mustahil, sebagaimana yang pernah dijelaskan pada salah satu tulisan.
Solusinya, pembuktian itu harus berhenti pada satu kebenaran yang “dipastikan”, agar menghindari konsekuensi tasalsul itu.
Nah, kumpulan kebenaran itu kemudian diramu menjadi metodologi. Metodologi inilah kemudian yang digunakan untuk menimbang benar-salah pemikiran lain.
Betul, kita membaca bukan untuk menerima dan menolak. Tapi, sikap ini tidak bisa berlaku pada hal-hal yang dipastikan benarnya. Karena kalau kita meragukan hal yang sudah jelas, tentu tidak matching. Karena kebenaran itu diterima, bukan diragukan.
Sesuatu yang bisa diragukan itu ketika dia masih berada pada tahap spekulatif; belum bisa dipastikan benar-salahnya. Perlu eksplorasi nalar dan pembuktian lebih lanjut. Tapi, seluruh aktivitas nalar dan pembuktian itu, memerlukan alat untuk eksekusi lapangan. Alat itu adalah metodologi. Metodologi itulah yang menjadi pisau bedah dalam membaca pemikiran lain.
Jadi, kalau masih maba (mahasiswa baru) jangan minder kalau belajar hal-hal dasar. Itu sangat wajar. Justru perlu malu itu kalau sudah merasa sampai puncak dengan segenap eksklusifitas yang beda dari awam, tapi masalah dasar saja belum selesai. Tidak penting betul itu validasi eksternal. Yang jauh lebih penting itu jujur sama diri; maksimal pada apa yang Allah tugaskan kepada kita. Biar Dia yang pindahkan ke mana posisi kita. Kalau sekarang masih harus tekun di ilmu dasar, maksimal saja di sana.
Metodologi di Awal
Mungkin ada pertanyaan, kenapa belajar cara bernalar sejak awal itu seperti harga mati? Kenapa tidak nanti saja? Kan, masalah di masyarakat dan kesesatan itu sangat banyak.
Justru karena masalah itu sangat banyak, kita perlu belajar cara bernalar sejak awal. Jangan dibalik. Kalau cita-cita adalah menyelesaikan masalah dan menjawab problematika sosial, pertanyaan lanjutannya: “Masalah apa yang bisa selesai dengan kebodohan dan kedangkalan?” Pada akhirnya, ketidaktahuan justru menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.
Juga, dalam membenahi cara berpikir di awal melalui rangkaian ilmu alat itu, waktunya tidak terlalu lama, alias terbatas. Sedangkan gumpalan masalah dan isu kemasyarakatan itu tidak terbatas. Kalau kita sejak awal hanya konsen sama isu lapangan, kita tidak akan pernah selesai. Karena tidak terbatas.
Dapat orang sesat, dikomentari. Dapat Wahabi mencela Ahlussunnah, dikomentari. Akhirnya, kita tidak punya waktu untuk membenahi diri pada ilmu yang terbatas itu. Waktu kita habis dalam mengomentari. Sayang sekali, waktu habis untuk hal yang tidak prioritas.
Kalau mau dapat dua-duanya, selesaikan yang terbatas dulu. Karena yang namanya terbatas, ia punya titik paten. Setelah selesai, silahkan, lapangan sangat menyambut kedatangan Anda.
Bukannya mengajak apatis dan menutup mata dengan lapangan. Bersikap itu penting dan melek realitas itu juga penting. Tapi, jika kita bersikeras berkontribusi tanpa adanya kompetensi, itu jauh lebih egois. Kenapa? Karena ego kontribusi kita yang memaksa itu, akhirnya masalah di masyarakat semakin besar. Inkompetensi mana yang menyelesaikan masalah dengan baik? Kalaupun selesai, ya hoki.
Fyi saja, judul tulisan ini cuman clickbait dan tidak diniatkan menjadi tulisan ilmiah banget. Karena tulisan ini diperuntukkan kepada orang-orang yang barusan belajar secara umum dan toolkit untuk maba yang barusan datang di Mesir secara khusus. Supaya sejak awal, tidak tertipu dengan nafsu belajar yang landasannya ego, bukan kemurnian.
Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.








