Penulis : Muhammad Taufiq Rifqi (MAN 2/MAN-PK Samarinda)
Editor: Muhammad Said Anwar
—
• 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒉𝒖𝒍𝒖𝒂𝒏
Acara peringatan haul Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kelampayan) tiap tahun diperingati oleh ribuan orang, yang berdatangan dari berbagai penjuru Tanah Kalimantan, dan seluruh Indonesia, bahkan hingga muslim dari manca negara. Hal itu menjadi fenomena sosial yang menarik. Bahkan dijadikan kajian bagi para akademisi dan praktisi ilmu-ilmu sosial.
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah seorang ulama besar pada zamannya, bukan hanya di daerah Kalsel, tapi di dunia Internasional. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari hidup diabad 17 hingga 18, dimana masih berdiri Kerajaan Banjar.
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari berhasil mencetak kader-kader pembaharu Islam, memurnikan ajaran fiqh dan memberikan corak Islam yang lebih kuat pada kerajaan Banjar. Bahkan beberapa jabatan dalam struktur pemerintahan kerajaan menempatkan jabatan-jabatan baru mufti, qadhi, Penghulu dan sebagainya. Ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari terhadap perkembangan ajaran dan hukum Islam didaerah ini.
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari juga penulis dan ilmuwan yang mumpuni. Buku karangan beliau yang bernama Sabil al-Muhtadin dicetak di Mesir dan dipakai sebagai buku pegangan dalam belajar fiqh. Karangan-karangan beliau dipakai umat Islam sampai Filipina Selatan.
• 𝑱𝒆𝒋𝒂𝒌 𝑲𝒆𝒊𝒍𝒎𝒖𝒂𝒏 𝑺𝒚𝒆𝒌𝒉 𝑨𝒓𝒔𝒚𝒂𝒅
Selain seorang alim ilmu agama, Syekh Arsyad Al-Banjari juga ahli dalam ilmu falak. Pengetahuannya ini bisa diketahui dalam sejarah yang tertoreh di Masjid Jembatan Lima Jakarta. Dalam perjalanan kembali dari Tanah Suci, Syekh Muhammad Arsyad singgah di kampung sahabat seperjuangannya yang sama-sama menuntut ilmu di Makkah, Syekh Abdurrahman Mesri. Selama berada di Betawi, Syekh Muhammad Arsyad mengunjungi banyak tempat dan masjid-masjid. Disini ilmu beliau diuji.
Dalam suatu riwayat, ketika Syekh Muhammad Arsyad berkunjung ke Masjid Jembatan Lima, dilihatnya bahwa arah kiblat masjid tersebut terlalu miring kekiri 25 derajat. Hal ini didasarkan pada perhitungan astronomi, yang merupakan salah satu cabang ilmu yang dikuasai Syekh Muhammad Arsyad. Tentunya hal ini ditolak oleh masyarakat sekitar dan meminta agar dibuktikan. Syekh Muhammad Arsyad kemudian menunjukkan perhitungan astronomi yang menunjukkan arah kiblat yang sebenarnya.
Setelah itupun akhirnya diubahlah arah kiblat tersebut kekanan sebanyak 25 derajat. Kejadian ini terekam dalam sebuah prasasti yang masih bisa ditemukan hingga kini di lokasi sekitar Masjid Jembatan Lima, yang mana batu tulisnya ditulis dalam bahasa Arab yang artinya: Arah kiblat masjid ini digeser kekanan sebanyak 25 derajat oleh Syekh Muhammad Arsyad Banjar pada tanggal 4 Safar 1186 H (bertepatan dengan tanggal 7 Mei 1772 M).
• 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒃𝒅𝒊𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝑻𝒂𝒏𝒂𝒉 𝑲𝒆𝒍𝒂𝒉𝒊𝒓𝒂𝒏 𝑯𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝑾𝒂𝒇𝒂𝒕
Setelah berpetualang lama, kembalilah Syekh Muhammad Arsyad berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Beliau mengabdikan diri di Kerajaan Banjar sebagai mufti utama kerajaan. Syekh Muhammad Arsyad juga banyak mendidik para santri yang haus akan pengetahuan. Termasuk juga zuriah-zuriahnya sendiri yang banyak di kemudian hari mengikuti jejak sang datuk. Seperti diantaranya Syekh Zainal Ilmi, Syekh Zaini Abdul Ghani, dan lain-lain.
Selain itu, bermunculan pula karya-karya tulisan dari Syekh Muhammad Arsyad. Hasrat untuk menulis dari Muhammad Arsyad telah muncul sejak beliau berada di Madinah. Tujuannya agar dapat menyampaikan ajaran agama Islam yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. dan mengikat ilmunya jauh lebih lama dalam bentuk tulisan.
• 𝑴𝒂𝒏𝒖𝒔𝒌𝒓𝒊𝒑 𝑷𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑴𝒂𝒏𝒇𝒂𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒊𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎
Karya Syekh Muhammad Arsyad ini termasuk dalam manuskrip kuno, yang kemudian dicetak dan diperbanyak ulang oleh murid-murid beliau di kemudian hari. Diantara karya beliau,
1. Kitab Ushuluddin, kitab terkait keimanan dan ketauhidan.
2. Luqthah al-‘Ajlan, kitab tentang wanita dan tertib suami-istri.
3. Faraidh, pembahasan ilmu warisan.
4. Kitab al-Nikah, tentang tali pernikahan.
5. Tuhfah al-Raqghibin, terkait iktikad-iktikad perbuatan sesat.
6. Sabil al-Muhtadin li al-Tafaqquh fi Amr al-Din.
7. Qaul al-Mukhtasar, terkait akhir zaman dan tanda-tandanya
8. Kanz al-Ma’rifah, dalam kajian masalah Tasawuf, juga kitab Hidayah al-Salikin dan Sair al-Salikin.
9. Mushaf Qur’an yang ditulis tangan menggunakan qiraat Ibnu Katsir dan qiraat Warsy ditepinya.
Jejak Syekh Muhammad Arsyad dari awal kehidupan hingga menjadi ulama yang mumpuni, baik di bidang ilmu agama dan ilmu umum, dan karya tulisnya yang fenomenal. Tradisi haul yang dilakukan tiap tahunnya, adalah bentuk penghormatan rakyat terhadap jasa Syekh Muhammad Arsyad dan dianggap sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah dan jiwa sosial secara bersamaan. Bentuk tradisi dan upacara rakyat ini butuh diabadikan nilai histori dan manfaatnya, agar bisa menjadi pelajaran bagi generasi masa depan. Dimana dibutuhkan penanaman nilai-nilai positif dalam mengenal dan mengenang tokoh-tokoh sejarah, wabil khusus para ulamanya.
Wallahu a’lam.
—
Rujukan:
– Daudi, Abu. 1980. Maulana Syekh Moh. Arsyad Al-Banjari. Sekretariat Madrasah Sullamul Ulum Dalam Pagar. Martapura.
Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...








