• Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Rabu, Februari 18, 2026
Ruang Intelektual
  • Login
  • Daftar
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Ruang Intelektual
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Filsafat

Apa itu Al-Ma’qulat Al-Awwaliyyah dan Al-Ma’qulat Al-Tsaniyyah?

Muhammad Said Anwar Oleh Muhammad Said Anwar
5 Oktober 2023
in Filsafat
Waktu Baca: 7 menit baca
Source: https://www.pexels.com/id-id/foto/pola-tekstur-penghapus-klip-kertas-6192337/

Source: https://www.pexels.com/id-id/foto/pola-tekstur-penghapus-klip-kertas-6192337/

Bagi ke FacebookBagi ke TwitterBagi ke WA

Setiap hari Rabu, saya punya jadwal mengajar di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK). Kalau saya datang ke sana, selalu datang sekitar pukul tujuh lewat sedikit. Itu kalau saya tidak bermalam.

Saat saya sampai, sangat jarang saya langsung masuk kelas. Nanti saya masuk jika ada instruksi khusus. Momen pagi di sana, jalanan yang malamnya sepi layaknya kota tak berpenghuni, akan mendadak sepadat Jakarta.

Kalau menunggu, biasanya saya duduk santai depan gedung sambil melihat kendaraan lalu-lalang. Di sana saya melihat mobil Rush, Avanza, Terios, dan banyak sekali merek lainnya. Apapun merek mobil yang saya saksikan, pada akhirnya semuanya saya katakan sebagai mobil. Begitu juga motor, walaupun itu Jupiter, Ninja, Satria, dan lain sebagainya, saya katakan bahwa semua itu disebut dengan motor.

Sekarang saya mau bertanya, apakah mobil sebagai titik temu antara merek mobil itu bisa dilihat oleh pancaindera? Jawabannya, tidak. Yang kita lihat secara langsung itu adalah individu dari mobil. Seperti Avanza, Rush, dan semacamnya. Bukan mobil yang menjadi titik temu antara individu mobil itu.

Begitu juga motor, yang diamati langsung oleh pancaindera itu hanya individu dari apa yang kita sebut dengan motor. Yang kita saksikan adalah motor Satria, motor Ninja, dan motor-motor yang dibatasi dengan merek tertentu. Sedangkan motor yang tidak diikat dengan merek tertentu, itu tidak bisa dilihat oleh pancaindera.

Segala hal yang disaksikan oleh pancaindera itu disebut dengan al-juz’iyyat atau hal-hal partikular di alam semesta. Ini juga menjadi alasan, kenapa para filusuf mengatakan objek pengetahuan pancaindera adalah al-juz’iyyat. Karena pancaindera hanya sanggup mencerna pengetahuan partikular saja. Sementara akal, memiliki objek pengetahuan al-kulliyyât atau hal universal.

Al-Kulliy dan Al-Juz’iy

Secara umum, tentang kulliy dan juz’iy ini sudah pernah saya bahas dalam salah satu tulisan yang bisa diakses di sini. Namun, penjelasan yang akan Anda masuki ini hanya mempertegas mana yang disebut kulliy dan juz’iy.

Coba perhatikan mana yang disebut manusia dan mana yang disebut sebagai individu yang diberlakukan kepadanya konsep manusia. Manusia yang saya maksud adalah al-haiwân al-nâthiq. Ini mencakup banyak individu manusia di dalamnya. Sedangkan yang kita saksikan di alam nyata, ada banyak orang. Ada Akmal, Fafa, Icuk, Mufas, Ummu, Hikmah, Arin, dan lain sebagainya. Mereka ini disebut sebagai individu dari manusia, bukan manusia sebagai konsep yang mencakup lagi manusia yang lain.

Misalnya, ketika saya menyebut Mufas. Apakah seseorang yang bernama Mufas ini di dalamnya ada perserikatan dalam kemanusiaan? Atau dengan pertanyaan lain, apakah dari sosok Mufas ini akan mencakup manusia-manusia yang lain seperti Icuk, Ummu, Hikmah, dan Arin itu? Tidak. Deretan manusia itu akan menjadi individu dari manusia. Justru, manusia sebagai konsep, di dalamnya tercakup banyak individu manusia. Karena “manusia” ini memungkinkan perserikatan terjadi di dalamnya, maka manusia ini disebut dengan kulliy. Sedangkan, orang-orang tadi yang dibatasi dengan personifikasi (syakhs) tertentu, itulah disebut dengan juz’iy.

Nah, ketika saya menyimpulkan bahwa mereka semua itu manusia, lalu terhasillah konsep universal yang disebut dengan manusia itu, inilah yang disebut dengan al-ma’qȗlât al-awwaliyyah.

Al-Ma’qȗlât Al-Awwaliyyah

Secara sederhana, bisa dikatakan bahwa al-ma’qȗlât al-awwaliyyah adalah tahap berkumpulnya makna sesuatu yang ada di alam luar menjadi konsep universal. Seperti, ketika saya melihat pohon kurma, pohon mangga, pohon asam, dan pohon-pohon lainnya, lalu saya berlakukan kepada semuanya konsep pohon. Terbentuknya konsep pohon dari hasil pengamatan terhadap banyak pohon ini, disebut dengan al-ma’qȗlât al-awwaliyyah.

Al-ma’qȗlât merupakan bentuk jamak dari kata al-ma’qȗl. Maknanya, sesuatu yang dirasionalkan atau dicerna oleh akal. Seperti pengetahuan universal tadi, itu dicerna oleh apa yang disebut dengan al-ma’qȗlât ini. Sedangkan al-awwaliyyah berasal dari kata al-awwal yang bermakna awal. Karena rasionalisasi pertama terjadi pada tahap ini; tepat setelah pancaindera telah mengamati objek yang ada di alam luar.

Di bagian ini, tabiat dari segala objek yang ada di alam semesta bisa diketahui, semisal apakah dia merupakan substansi atau aksiden. Di bagian ini juga kita bisa mengetahui esensi (mâhiyyah) dari sesuatu, apa adanya. Makanya, al-ma’qȗlât al-awwaliyyah ini menjadi objek dari ilmu maqȗlât.

Al-Ma’qȗlât Al-Tsâniyyah

Jika al-ma’qȗlât al-awwaliyyah merupakan bentuk rasionalisasi pertama, maka al-ma’qȗlât al-tsâniyyah merupakan bentuk kedua. Jika bentuk pertama sekadar menangkap konsep dari hal-hal yang ada di alam luar, maka bentuk kedua ini memberikan atribut tambahan kepada pengetahuan yang ada dari alam luar.

Semisal, pohon itu kulliy. Apa yang disebut kulliy ini tidak ada di alam luar. Tapi, konsep ini terpancing dari munculnya konsep pohon di bentuk pertama. Setelah itu, bentuk kedua memperjelas bahwa pohon ini terkategorikan sebagai kulliy.

Contoh lain, buku itu juz’iy idhâfi. Ketika saya menangkap makna universal berdasar pengamatan yang ada di alam luar, saya kemudian mengkategorikan bahwa apa yang disebut buku ini, tergolong dalam juz’iy idhâfiy dalam ilmu mantik.

Mengapa al-ma’qȗlât al-tsâniyyah ini ada? Karena ini adalah bentuk lanjutan dari sekadar berpikir biasa; sekadar mengetahui konsep umum tanpa ada eksekuesi lebih lanjut. Bagian ini merupakan eksekusi lanjutannya.

Seperti namanya, al-ma’qȗlât al-tsâniyyah berasal dari al-ma’qȗlât dan al-tsâniyyah. Al-ma’qȗlat, sudah kita jelaskan pada bagian sebelumnya. Sedangkan al-tsâniyyah itu berasal dari kata al-tsâni yang bermakna dua. Ini mengisyaratkan bahwa inilah tahap selanjutnya dari sekadar berpikir.

Al-ma’qȗlât al-tsâniyyah ini terbagi menjadi dua; al-ma’qȗlât al-tsâniyyah al-manthiqiyyah dan al-ma’qȗlât al-tsâniyyah al-falsafiyyah. Disebut al-manthiqiyyah karena menggunakan istilah yang ada di ilmu mantik dan disebut al-falsafiyyah karena menggunakan istilah yang ada di filsafat.

Contoh al-ma’qȗlât al-tsâniyyah al-manthiqiyyah ini adalah manusia itu kulliy. Konsep manusia ini didapatkan dari bentuk rasionalisasi pertama atau al-ma’qȗlât al-awwaliyyah. Sedangkan ketika saya meleburkan dengan unsur ke-mantik-an ke dalamnya, seperti memasukkan istilah kulliy, maka pada saat itu dia disebut al-ma’qȗlât al-tsâniyyah al-manthiqiyyah. Hal tersebut berlaku juga kepada istilah lain seperti, jins, fasl, nau’, khassah, mȗjabah, sâlibah, dan lain sebagainya.

Sedangkan jika saya melekatkan unsur ke-filsafat-an atau istilah khusus dalam filsafat, seperti cinta itu dhâruriy, maka saat itu disebut dengan al-ma’qȗlât al-tsâniyyah al-falsafiyyah.  Hal yang sama berlaku ketika menggunakan istilah al-imkân, al-wâjib, wahdah, katsrah, ‘illah, ma’lȗl, dan lain-lain.

Sayyid Syarif Al-Jurjani memberikan dua catatan pada al-ma’qȗlât al-tsâniyyah ini. Pertama, al-ma’qȗlât al-tsâniyyah ini merupakan hal yang “menempel” pada al-ma’qȗlât al-awwaliyyah. Artinya, ketika al-ma’qȗlât al-awwaliyyah menangkap pengetahuan yang disebut manusia, maka al-ma’qȗlât al-tsâniyyah ini “menempel” dalam bentuk lain, entah dengan istilah mantik atau filsafat. Kedua, al-ma’qȗlât al-tsâniyyah, wujudnya tidak ada di alam nyata. Pernahkah Anda melihat bentuk fisik dari kulliy, juz’iy, dan semacamnya di dunia nyata? Haqqul yaqin, tidak. Semua bentuk al-ma’qȗlât al-tsâniyyah murni berada di akal, baik pengetahuan yang menjadi inspirasinya, maupun wujud pengetahuan itu sendiri.

Apa pentingnya membahas bagian ini? Kalau Anda ingin serius mempelajari ilmu maqȗlât, kalam, dan filsafat, memahami istilah seperti ini menjadi sebuah keniscayaan. Karena ini akan menjadi pengantar untuk mengetahui titik kritis, mana yang dikaji dalam ilmu maqȗlât dan bukan, mana konsep, wujud alam luar, pikiran, abstraksi, dan lain sebagainya. Tentang pentingnya mempelajari ilmu maqȗlât, sudah saya jelaskan dalam salah satu tulisan.

Detail kecil dalam filsafat beserta anak-anaknya diperlukan. Karena yang namanya filsafat, berbeda sudut pandang dan objek kecil saja, istilah yang digunakan bisa beda lagi. Makanya hal kecil yang terkesan sepele seperti ini, perlu dikaji sedikit demi sedikit. Agar pemahaman dalam estafet ilmu rasional tidak rancu.

Wallahu a’lam

Artikel Sebelumnya

Apa itu I’tibariy Intiza’iy dan Ikhtira’iy?

Artikel Selanjutnya

Cara Menguji Keilmuan dan Hafalan ala Syekh Fauzi Konate

Muhammad Said Anwar

Muhammad Said Anwar

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di MI MDIA Taqwa 2006-2013. Kemudian melanjutkan pendidikan SMP di MTs MDIA Taqwa tahun 2013-2016. Juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Imam Ashim. Lalu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Kota Makassar tahun 2016-2019. Kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo tahun 2019-2024, Fakultas Ushuluddin, jurusan Akidah-Filsafat. Setelah selesai, ia melanjutkan ke tingkat pascasarjana di universitas dan jurusan yang sama. Pernah aktif menulis Fanspage "Ilmu Logika" di Facebook. Dan sekarang aktif dalam menulis buku. Aktif berorganisasi di Forum Kajian Baiquni (FK-Baiquni) dan menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di Bait FK-Baiquni. Menjadi kru dan redaktur ahli di media Wawasan KKS (2020-2022). Juga menjadi anggota Anak Cabang di Organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada umur ke-18 tahun, penulis memililki keinginan yang besar untuk mengedukasi banyak orang. Setelah membuat tulisan-tulisan di berbagai tempat, penulis ingin tulisannya mencakup banyak orang dan ingin banyak orang berkontribusi dalam hal pendidikan. Kemudian pada umurnya ke-19 tahun, penulis mendirikan komunitas bernama "Ruang Intelektual" yang bebas memasukkan pengetahuan dan ilmu apa saja; dari siapa saja yang berkompeten. Berminat dengan buku-buku sastra, logika, filsafat, tasawwuf, dan ilmu-ilmu lainnya.

Artikel Selanjutnya
Cara Menguji Keilmuan dan Hafalan ala Syekh Fauzi Konate

Cara Menguji Keilmuan dan Hafalan ala Syekh Fauzi Konate

ARTIKEL TERKINI

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib
Pemikiran

Turâts dan Realitas; Sorot Syekh Ahmad Thayyib

Dialektika intelektual seputar turâts terus bergulir hingga hari ini, khususnya di dunia Timur Tengah sendiri. Jika kita membayangkan sesuatu yang...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Februari 2026
Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi
Tulisan Umum

Majelis Ilmu dan Salawatan; Syarah Nasihat Syekh Salim Abu ‘Ashi

Beberapa hari terakhir, sejak halaman resmi Facebook Madyafah Al-Syekh Al-‘Adawiy mengunggah video pendek (reels) yang menampilkan nasihat Syekh Salim Abu...

Oleh Muhammad Said Anwar
11 Februari 2026
Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?
Ilmu Kalam

Kalau Tuhan Suci dari Perubahan, Kenapa Dia Berkehendak?

Pertanyaan ini hanya muncul jika sejak awal kita menerima bahwa Tuhan itu suci dari perubahan. Karena ketika Tuhan berkehendak, di...

Oleh Muhammad Said Anwar
10 Februari 2026
Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis
Tulisan Umum

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Ajakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. merupakan niat mulia. Bagian dari keinginan dari keinginan kuat dalam mengamalkan...

Oleh Muhammad Said Anwar
18 Januari 2026
Apakah Alam Semesta itu Kekal?
Filsafat

Apakah Alam Semesta itu Kekal?

Perdebatan antara ulama kalam dan filusuf mengenai apakah alam semesta kekal atau tidak, seperti sinar matahari jelasnya. Tidak perlu dipertanyakan...

Oleh Muhammad Said Anwar
17 Januari 2026
Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan
Tasawuf

Brain Rot, Distraksi, dan Fokus Menuju Tuhan

Diverifikasi oleh: Maulana Syekh Bahtiar Nawir Menuju Tuhan adalah cita-cita terbesar, sekaligus utama bagi kita semua. Bukan hanya karena Dia...

Oleh Muhammad Said Anwar
8 Januari 2026

KATEGORI

  • Adab Al-Bahts
  • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Biografi
  • Filsafat
  • Fisika
  • Ilmu Ekonomi
  • Ilmu Firaq
  • Ilmu Hadits
  • Ilmu Kalam
  • Ilmu Mantik
  • Ilmu Maqulat
  • Karya Sastra
  • Matematika
  • Nahwu
  • Nukat
  • Opini
  • Pemikiran
  • Penjelasan Hadits
  • Prosa Intelektual
  • Sastra Indonesia
  • Sejarah
  • Tasawuf
  • Tulisan Umum
  • Ushul Fiqh

TENTANG

Ruang Intelektual adalah komunitas yang dibuat untuk saling membagi pengetahuan.

  • Tentang Kami
  • Tim Ruang Intelektual
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Daftar

Buat Akun Baru!

Isi Form Di Bawah Ini Untuk Registrasi

Wajib Isi Log In

Pulihkan Sandi Anda

Silahkan Masukkan Username dan Email Anda

Log In
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ilmu Bahasa Arab
    • Nahwu
    • Sharaf
    • Balaghah
    • ‘Arudh
    • Qafiyah
    • Fiqh Lughah
    • Wadh’i
  • Ilmu Rasional
    • Ilmu Mantik
    • Ilmu Maqulat
    • Adab Al-Bahts
    • Al-‘Umȗr Al-‘Ammah
  • Ilmu Alat
    • Ulumul Qur’an
    • Ilmu Hadits
    • Ushul Fiqh
  • Ilmu Maqashid
    • Ilmu Kalam
    • Ilmu Firaq
    • Filsafat
    • Fiqh Syafi’i
    • Tasawuf
  • Ilmu Umum
    • Astronomi
    • Bahasa Inggris
    • Fisika
    • Matematika
    • Psikologi
    • Sastra Indonesia
    • Sejarah
  • Nukat
    • Kitab Mawaqif
  • Lainnya
    • Biografi
    • Pemikiran
    • Penjelasan Hadits
    • Tulisan Umum
    • Prosa Intelektual
    • Karya Sastra
    • Ringkasan Buku
    • Opini
    • Koleksi Buku & File PDF
    • Video

© 2021 Ruang Intelektual - Mari Berbagi Pengetahuan.