Jika ada ilmu yang sekilas terlihat sangat ambigu, maka itu adalah filsafat. Mau itu lapisan masyarakat, pelajar, bahkan kelas akademisi sendiri, belum tentu mengetahui apa itu filsafat, kecuali sebagian flexing atau keren-kerenan menggunakan terma filsafat ini. Ada juga yang menggambarkan filsafat itu sebagai ilmu yang jika dipelajari, seseorang itu bisa gila! Di bagian kutub lain, ada yang menggambarkan filsafat sebagai “ilmu setan” yang haram dipelajari. Karena filsafat itu menjauhkan seseorang dari agama. Bahkan, melalui filsafat, seseorang akan menjadi ateis. Jika Anda termasuk dari orang-orang yang memiliki pemahaman demikian, maka tulisan ini cocok untuk Anda.
Sayangnya, menurut riset kecil-kecilan penulis tentang pemahaman orang-orang tentang filsafat, kebanyakan dipicu oleh framing dan kesan semata. Bukan filsafat itu sendiri. Ini seperti di dunia IT, sedikit saja seseorang “kelihatan” berinteraksi dengan kode atau perintah yang dilumuri dengan bahasa komputer, maka dia disebut hacker, bisa meretas akun Twitter, Facebook, bahkan satelit! Selangka itu informasi seputar filsafat, sehingga yang kita temui kebanyakan kesalahpahaman saja.
Kali ini, penulis akan menghadirkan beberapa literatur yang kredibel seputar filsafat, salah satunya Mabâdi’ Al-Falsafah yang ditulis oleh Syekh Said Ahmad bin Yusuf Al-Balanpuri, untuk menyingkap satu pertanyaan besar “Apa itu Filsafat?”
Kali ini kita akan membahas sepuluh dasar seputar filsafat. Adapun tentang bagaimana silabus belajar filsafat yang bisa membentuk malakah filsafat, akan kita sentuh pada tulisan mendatang. Mudah-mudahan ada waktu untuk itu.
Definisi
Kita menyentuh dua bagian; etimologi dan terminologi. Secara etimologi, filsafat dalam peradaban Yunani diartikan sebagai “Menyerupai Wâjib Al-Wujȗd sesuai kemampuan manusia untuk mencapai kebahagiaan abadi.” Sebagian pakar juga menyatakan bahwa filsafat terambil dari kata philo yang bermakna cinta dan sophos yang bermakna kebijaksanaan. Ketika keduanya digabung, maka maknanya cinta kebijaksanaan.
Dalam sebagian literatur Arab, filsafat disebut sebagai al-falsafah karena serapan dari philosophos. Kadang juga disebut dengan al-hikmah yang bermakna kebijaksanaan. Karena filsafat menghasilkan kebijaksanaan pada seseorang.
Adapun terminologi, ada pakar yang menyatakan bahwa filsafat tidak mungkin didefinisikan secara komprehensif (jâmi wa mâni’) disebabkan dua hal; pertama, faktor zaman. Artinya, setiap era memiliki konsep khas terkait filsafat. Misalnya, pada era sebelum Sokrates, filsafat pada masa itu kebanyakan hidup di area alam. Sedangkan, saat masa Sokrates, filsafat mulai menyentuh perihal moral dan kebenaran logis. Dan kedua, faktor mazhab. Setiap mazhab memiliki pemahaman tersendiri terkait filsafat. Semisal mazhab idealisme melihat kebenaran itu berada di alam ide. Sedangkan mazhab empirisme, melihat kebenaran itu berada di alam nyata.
Nah, perbedaan semacam ini menyebabkan adanya perbedaan pada konsepsi esensi filsafat. Puncaknya, ketika ada dua mazhab atau masa yang memiliki pemahaman yang saling berlawanan. Konsekuensinya, seluruhnya tidak bisa menyatu dalam definisi yang sama.
Di sisi lain, ada ahli juga yang menawarkan beberapa definisi terkait filsafat. Kita akan mengambil tiga saja:
Definisi Pertama
Definisi ini berbunyi:
العلم الباحث عن أحوال أعيان الموجودات على ما هي عليه بقدرة الطاقة البشرية
“Ilmu yang membahas tentang keadaan esensi sesuatu yang eksis sebagaimana adanya sesuai dengan kemampuan manusia.” (Al-Balanpuri, Mabâdi’ Al-‘Asyarah, Oman: Maktabah Al-Ghanim, 2023, hlm. 10).
Kita akan menjelaskan beberapa bagian penting definisi di sini:
Pertama, yang dimaksud dengan “esensi sesuatu yang ada” adalah inti atau titik paling hakiki dari sesuatu itu; bukan sesuatu yang sebatas di akal, bukan juga asumsi saja. Artinya, ketika kita membahas sesuatu, berarti kita tidak membahas lazim atau kesan dari sesuatu itu, apalagi di luar esensi sesuatu itu.
Kedua, yang dimaksud dengan “keadaan sebagaimana adanya” yaitu keadaan apa adanya di alam nyata, bukan murni asumsi dan hipotesa semata. Dengan kata lain, ketika kita membahas sesuatu, maka kita membahas sesuatu itu sebagaimana adanya di alam nyata, bukan berdasarkan pikiran dan persepsi kita. Karena jika itu menjadi kiblat pembahasan, maka itu tidak bisa disebut dengan filsafat. Sebab, bukan berdasarkan apa adanya.
Sebagian ahli juga menyebut “sebagaimana adanya” itu sesuai dengan nafs al-amr. Apa itu nafs al-amr? Kenyataan. Baik itu nafs al-amr atau kenyataan, itu berarti keadaan sesuatu dari segi bisa dihukumi bahwa sesuatu itu “begini”. Misalnya, ketika membahas rumah. Maka, rumah itu bisa dihukumi bahwa rumah itu bagus atau tidak. Nah, ketika kita membahas rumah apa adanya. Bukan membahas sifat rumah, bukan juga menitikfokuskan kepada selain rumah.
Jadi, ketika kita menyatakan sesuatu itu ada sesuai dengan nafs al-amr, maksudnya wujudnya sesuai dengan dirinya sendiri (maujȗd fi nafishi).
Ketiga, yang dimaksud dengan “kemampuan manusia” adalah kemampuan manusia normal atau rata-rata orang. Bukan manusia yang memiliki kelebihan super atau kelemahan terlampau rendah. Karena jika ada pengetahuan yang berasal bukan dari manusia, maka itu bukan filsafat. Pun, “kemampuan” di sini menitikberatkan effort manusia secara normal dalam menemukan kebenaran menurut apa adanya (fi nafs al-amr).
Sampai di sini kita bisa mengambil benang merah bahwa manusia normal, jika ia mau berusaha mendapatkan kebenaran, lalu mendapatinya, maka dia tergolong filusuf. Karena ia melakukan aktivitas yang bernama filsafat. Tidak seperti yang dicitrakan kebanyakan orang; filusuf hanya orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sehingga aktivitas terlihat sangat ekslusif. Padahal, filsafat adalah hak segenap bangsa.
Definisi Kedua
العلم بحقائق الأشياء على ما هو عليه والعمل بمقتضاها
“Ilmu tentang hakikat segala sesuatu menurut apa adanya dan pengamalan pengetahuan itu.” (Al-Balanpuri, Mabâdi’ Al-‘Asyarah, Oman: Maktabah Al-Ghanim, 2023, hlm. 11).
Bedanya dengan definisi sebelumnya, definisi ini meniscayakan filsafat muncul dalam dua bentuk; teoritis dan pengamalan. Sedangkan yang sebelumnya hanya berkutat pada teoritis. Tapi, definisi pertama bisa lebih kuat untuk ilmu yang sifatnya murni teori. Karena tidak semua ilmu bisa diamalkan. Tapi, di sinilah titik temunya dengan definisi pertama.
Definisi Ketiga
الكمال الحاصل للنفس الخارج من قوة إلى الفعل بحسب النظرية والعملية
“Kesempurnaan yang terhasilkan untuk jiwa (dengan) keluarnya dari potensi menuju aktualisasi, baik secara teoritis maupun praktis.” (Al-Balanpuri, Mabâdi’ Al-‘Asyarah, Oman: Maktabah Al-Ghanim, 2023, hlm. 11).
Di sini ada beberapa hal yang perlu dijelaskan:
Pertama, keluarnya jiwa dari dimensi potensi menuju aktual. Jadi, sebelum jiwa sampai di derajat kesempurnaan, pada dasarnya jiwa itu memiliki potensi untuk mencapai kesempurnaan. Tidak ada jiwa yang menolak kemungkinan dirinya menjadi semakin sempurna.
Kedua, bentuk kesempurnaan itu terlihat dalam dua hal; teoritis, pengetahuannya menjadi akurat tentang sesuatu dan sebagaimana adanya, dan praktis, membuat seseorang menjadi terbiasa (terbantuk malakah tâmmah) dalam melakukan perbuatan yang sebagaimana mestinya; tidak lebih dan tidak kurang.
Jadi, definisi ini menyatakan bahwa keluarnya jiwa dari alam potensi kesempurnaan, maka itulah filsafat. Kendati, ada yang menolak bahwa keluarnya jiwa dari alam potensial itu bukan filsafat, tapi filsafat itu sendirilah yang merupakan kesempurnaan.
Dari ketiga definisi ini, yang paling mendekati adalah definisi ketiga. Meskipun nanti ada yang cenderung menyatakan kesempurnaan diri itu berangkat dari sesuatu yang bersifat teoritis atau praktis, tapi tetap saja titik beratnya kesempurnaan jiwa.
Tentang kesempurnaan itu sendiri, bisa berangkaat dari aspek teoritis saja, praktis saja, atau keduanya. Namun, Ibnu Sina dalam ‘Uyȗn Al-Hikmah, memilih bahwa filsafat itu pada dasarnya merupakan kesempurnaan yang cenderung pada aspek teoritis. Karena praktik itu merupakan turunan dari praktik. Bagaimana mungkin seseorang mempraktikkan sesuatu sementara dia sendiri tidak mengetahuinya?
Klasifikasi Filsafat
Secara garis besar‒sebagaimana yang tercantum dalam definisi kedua‒filsafat ada yang sifatnya teoritis, ada juga yang praktis. Ketika kita mengetahui bahwa cinta itu baik, kebencian itu buruk, dan hal abstrak lainnya, maka itu disebut dengan ffilsafat teoritis, karena murni menggunakan abstraksi akal. Sedangkan perbuatan baik atau buruk yang kita lakukan, maka itu tergolong ke dalam filsafat praktis.
Filsafat praktis itu “Ilmu tentang sesuatu yang keberadaannya dikehendaki oleh kemampuan dan pilihan kita.” Sedangkan filsafat teoritis, tidak perlu dikehendaki keberadaannya oleh kita.
Kemudian, filsafat praktis terbagi menjadi tiga; ilmu tersebut poin akhirnya adalah kemaslahatan individu, agar moral baik termanifestasikan pada diri seseorang. Ini yang kita kenal dengan ilmu akhlak. Ada juga yang ranahnya di lingkungan rumah dengan tujuan kemaslahatan kepada setiap anggota rumah. Ini disebut dengan ilmu tadbîr al-manzil. Sedangkan jika ranahnya lebih luas lagi; kota atau wilayah besar lainnya, ini disebut dengan ilmu politik.
Adapun filsafat teoritis terbagi menjadi tiga; ilmu yang tidak butuh kepada wujud fisikal, tapi meninjau materi dari aspek rasional saja, seperti membahas kemungkinan, keniscayaan, akal, dan sebagainya, maka ini ilmu metafisika (ilahiyyât). Jika wujud fisikal itu menjadi titik perhatian, tanpa merasionalisasikan materi, seperti membahas bangun ruang, lingkaran, ruang tiga dimensi, dan lain sebagainya, maka itu ilmu eksak (riyâdhiât). Adapun ketika ilmu itu membahas tentang wujud fisikal dan melihat materi dari aspek rasionalnya, seperti membahas tentang manusia, hewan, dan semacamnya, maka ini menjadi ilmu alam atau sains (thabî’iyyât).
Kemudian, sesuatu yang tidak membutuhkan materi, jika didetailkan ada dua; pertama, tidak memiliki bandingan atau oposisi (muqâranah), seperti Tuhan dan akal, maka ini disebut dengan ilmu metafisika. Kedua, mungkin memiliki pembanding, tapi sifatnya tidak niscaya. Seperti membahas tentang kesatuan (al-wahdah), ketersusunan (al-katsrah), dan seluruh perkara universals (al-umȗr al-‘ammah), maka ini disebut dengan ilmu universal (ilmu kulliy) atau disebut juga dengan al-falsafah al-ȗla.
Mantik, Bagian dari Filsafat?
Untuk menjawabnya, cukup kompleks. Karena definisi mantik dan filsafat terlalu banyak. Apakah mantik bagian dari filsafat atau bukan, hal itu berpulang kepada definisi keduanya. Untuk mempermudah, kita akan mengelompokkan beberapa bagian saja.
Pertama, para ahli berbeda, apakah mantik itu bagian dari ilmu atau bukan? Karena yang mengatakan mantik itu bukan ilmu, menyatakan bahwa mantik adalah “alat” untuk ilmu. Yang mengatakan mantik itu bukan ilmu, jelas tidak menggolongkan mantik itu sebagai bagian dari filsafat.
Kedua, kalau pun mantik dikatakan sebagai ilmu, para ahli berbeda lagi. Apakah mantik tergolong sebagai filsafat teoritis atau praktis? Kalau dikatakan bagian dari filsafat teoritis, apakah keseluruhan mantik tergolong demikian atau tidak? Ada yang menyatakan sebagian dari mantik itu sifatnya teoritis, karena sifat wujudnya berada di akal, dan sebagiannya lagi menyatakan mantik tergolong filsafat praktis, karena kita bisa memilih, apakah ingin menggunakan kaidah itu atau tidak.
Ketiga, bagi yang mendefinisikan filsafat dengan frasa “a’yân” atau hakikat sesuatu, maka secara tidak langsung menyatakan mantik bukan bagian dari filsafat. Karena hakikat sesuatu itu ada di alam nyata, sedangkan mantik memiliki domain di alam akal atau al-ma’qȗlât al-tsâniyyah. Sedangkan bagi yang mendefinisikan filsafat tanpa frasa itu, akan menggolongkan mantik sebagai bagian dari filsafat.
Keempat, bagi yang menyatakan bahwa mantik tergolong sebagai filsafat teoritis, akan berbeda lagi. Apakah mantik termasuk dalam ketiga bagian filsafat teoritis atau tidak? Bagi yang menyatakan mantik bagian dari filsafat teoritis, maka filsafat teoritis menjadi empat. Mantik menjadi satu bagian tersendiri di luar ketiga bagian sebelumnya. Karena mantik menjadi alat untuk menghasilkan ilmu ketiga ilmu besar; metafisika, eksak, dan alam.
Adapun yang mendefinisikan filsafat dengan kesempurnaan jiwa atau yang kita temukan pada definisi ketiga, maka mantik termasuk bagian dari filsafat. Karena mantik bisa menyempurnakan jiwa dalam bentuk teoritis; meningkatkan akurasi konsepsi (tashawwur) dan penyusunan proposisi (qadhiyyah) di akal. Sedangkan, secara praktis, mantik itu bisa menyempurnakan kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu sebagaimana mestinya.
Tentang Filsafat Iluminasi (Al-Hikmah Al-Isyrâq)
Filsafat iluminasi itu merupakan filsafat dalam bentuk tasawuf dalam istilah tradisi keilmuan Islam, sebagaimana filsafat metafisika dan alam itu disebut dengan ilmu kalam.
Lebih jelasnya, kebahagiaan tertinggi itu mengenal Tuhan dengan seluruh kesempurnaannya dan suci dari segala kekurangan. Akan tetapi, cara untuk “sampai” di sana ada dua;
Pertama, melalui metode rasional dan argumentatif.
Kedua, melalui metode menyendiri (riyâdhah) dan kesungguhan jiwa (mujâhadah).
Kaum yang menempuh metode pertama, jika mereka berpegang kepada agama yang dibawakan Rasulullah Saw., maka kalau bukan dari ulama kalam, maka mereka termasuk kaum paripatetik (masya’i). Sedangkan yang menempuh metode kedua, kalau riyâdhah itu sesuai dengan hukum syara’, kalau bukan termasuk kaum sufi, maka mereka termasuk kaum iluminasi (isyraqiyyȗn).
Apa output dari kedua metode ini? Metode pertama memperkokoh potensi teoritis (al-quwwah al-nazhariyyah) pada diri manusia. Potensi manusia itu terdapat pada empat akal; 1) al-‘aql al-hayȗlâni, 2) al-‘aql bi al-malakah, 3) al-‘aql bi al-fi’il, dan 4) al-‘aql al-mustafâd. Jenis terakhir inilah akal paling sempurna dan ini menjadi tujuan dari metode pertama ini.
Untuk memperjelas keempat jenis akal ini, kita akan mengasumsikan bahwa akal itu memiliki empat tingkatan. Tingkatan pertama adalah al-‘aql al-hayȗlâni. Tingkatan pertama ini murni ketersiapan manusia dalam menerima pengetahuan. Jadi, karena ini hanya sebatas ketersiapan, maka pada tingkatan ini belum ada pengetahuan apapun.
Kemudian, pada tingkatan kedua, yaitu al-‘aql bi al-malakah. Pada tingkatan ini, pengetahuan itu hanya sebatas pada hal-hal yang tidak butuh penalaran (dharuriyyât). Seperti, langit itu di atas, bumi itu di bawah, api itu panas, dan lain sebagainya. Dan pada tahapan ini, manusia masih ada dalam kondisi ketersiapan untuk bernalar.
Selanjutnya, ada pada tingkatan ketiga; al-‘aql bi al-fi’il. Ini adalah keadaan ketika pengetahuan yang dihasilkan melalui penalaran, masih tersimpan dalam potensi berpikir manusia. Dengan kata lain, saat manusia berada di tahap ini, mereka sebenarnya bisa menghasilkan pengetahuan baru, tapi aktivitas “penghasil” itu belum tampak secara nyata.
Adapun tingkatan paling akhir; al-‘aql al-mustafâd, ketika seseorang bisa memahami dan mendapatkan pengetahuan spekulatif dengan dirinya sendiri, dan bisa mengetahui sesuatu yang tidak disaksikannya secara fisikal. Ini adalah tingkatan tertinggi manusia, karena saat manusia menggunakan akalnya, maka saat itu manusia berada pada tingkatan keempat ini. Dan ini merupakan poin akhir dari metode pertama tadi.
Tentang metode kedua, output-nya adalah meningkatkan potensi praktis manusia dan mengangkat derajat manusia. Pada tahap awal, seseorang akan mencapai pembersihan sisi luar manusia dengan syariat dan hukum ilahi. Tahap kedua, pembersihan batin dari akhlak buruk. Tahap ketiga, memurnikan jiwa dari segenap keraguan dan angan-angan. Dan pada tingkatan akhir, seseorang akan menyaksikan keindahan dan kebesaran Tuhan, tanpa butuh berpikir.
Objek Kajian
Kalau kita merujuk kepada uraian di atas, maka kita dapat melihat objek filsafat yang terlampau luas. Dia bisa masuk ke ranah metafisika, logika, eksak, dan alam. Bahkan, beberapa pakar menyatakan bahwa filsafat hampir merasuki semua ilmu‒karena inilah filsafat juga dijuluki: induknya ilmu‒maka objek kajian filsafat adalah objek kajian ilmu yang dicakupnya. Sedangkan dalam tradisi keilmuan Islam, objek kajian filsafat itu mencakup segala sesuatu yang ada di alam nyata dan pikiran.
Manfaat
Ada beberapa manfaat mempelajari filsafat:
Pertama, filsafat itu akan mengantarkan seseorang menuju kepada kebenaran sesuai dengan kemampuan manusia.
Kedua, menyempurnakan potensi teoritis dan praktis seseorang. Dengan kata lain, nalar seseorang akan meningkat dan perbuatannya akan semakin akurat.
Ketiga, kemuliaan seseorang akan meningkat dengan meningkatnya kualitas diri di dunia dan akan memperoleh kebahagiaan di akhirat. Karena agama memerintahkan seseorang untuk berpihak kepada kebenaran, sementara filsafat akan membawa seseorang menuju kepada kebenaran.
Keempat, seseorang akan semakin tegak dan berani dalam membenarkan yang benar dan menyatakan salah untuk sesuatu yang salah.
Kelima, manfaat dari menempuh filsafat teoritis adalah meningkatnya kualitas akal dan manfaat dari filsafat praktis adalah meningkatnya kualitas pikiran dan hati. Bahkan, filsafat bisa mengajak seseorang untuk menjadi lebih dewasa.
Ketujuh, filsafat akan membuat seseorang menjadi berbeda dari manusia pada umumnya. Dalam artian, seseorang akan memiliki cara berpikir khas yang cenderung mandiri dibanding ikut-ikutan saja.
Keutamaan
Keutamaan filsafat adalah bisa masuk ke semua ranah ilmu. Karena ilmu itu postulatnya berasal dari filsafat. Bahkan, kita tidak akan menemukan sebuah peradaban makmur, jika di sana tidak ada filsafat. Jika Anda melihat peradaban besar, bangunan megah, teknologi canggih, pengobatan medis mutakhir, dan hal luar biasa lainnya, itulah buah dari filsafat. Karena filsafat melahirkan matematika, sains, dan ilmu yang sering kita sebut dengan “ilmu duniawi” yang membangun peradaban.
Filsafat juga menjadi faktor utama dalam pergerakan dinamika keilmuan. Seandainya bukan karena filsafat, tidak ada lagi penemuan yang memajukan peradaban manusia. Bahkan untuk ilmu yang sifatnya abstrak, filsafat juga memiliki peranan di sana.
Kaitan dengan Ilmu Lain
Sudah disinggung sebelumnya bahwa filsafat adalah induk semua ilmu. Sebelum melihat bagaimana kaitannya dengan ilmu lain, perlu diketahui bahwa ilmu itu ada dua jenis; 1) Ilmu yang menjadi menaungi ilmu lain. Dengan kata lain, ilmu ini dijadikan dasar bagi ilmu lain. Ini disebut dengan ilmu kulliy, dan 2) Ilmu yang dinaungi. Ilmu ini merupakan ilmu yang lahir dari ilmu yang pertama dan memiliki ciri khas sendiri. Ini disebut dengan ilmu juz’iy.
Filsafat itu termasuk ilmu kulliy. Karena basisnya digunakan oleh ilmu lain. Seperti ketika memasuki ilmu lain, maka kita akan bertemu dengan bagian definisi. Definisi itu hak milik filsafat. Sedangkan ilmu lain yang dinaungi, ada banyak. Seperti bahasa, ushul fikih, nahwu, sharaf, dan lain sebagainya. Karena ilmu nahwu menggunakan definisi dan memiliki ciri khas yang membedakannya dengan ilmu lain; fokus kepada akhir kata dan hukum kata. Namun, untuk menyusun strukturnya membutuhkan filsafat. Begitu juga dengan ilmu lain.
Peletak Dasar dan Sejarah Singkat
Terkait siapa pertama kali yang memperkenalkaan filsafat, ada sangat banyak pandangan tentang itu. Ada pandangan yang menyatakan bahwa awal mula filsafat itu memiliki kontak dengan agama.
Awal mulanya, manusia memiliki hakim agung. Para hakim agung ini dianggap sebagai panutan. Tapi, ketika mereka mengeluarkan pendapat dan memutuskan sesuatu, mereka tidak memiliki standarisasi paten. Akhirnya, mereka mendirikan deretan mazhab yang beragam. Dan tentunya mereka saling menyesatkan.
Salah seorang sejarawan yang bernama Muhammad Syarif Musthafa Abadi dalam Al-Ifâdhah Al-Qudsiyyah menulis bahwa, banyak peradaban yang mengaku bahwa filsafat itu mulanya muncul dari peradaban mereka. Tapi, yang pasti ada salah satunya yang benar-benar muncul sebagai “pendobrak”. Namun, ini butuh data yang benar-benar valid.
Tak segan-segan, sampai disebutkan bahwa yang pertama kali berfilsafat adalah Nabi Idris As. karena filsafat adalah wahyu kepada Beliau. Nabi Idris As. dilahirkan di Mesir dan dikenal dengan nama Hermes. Kemudian, Nabi Idris As. yang dikenal sebagai Hermes‒dalam riwayat lain‒disebutkan berguru kepada orang agung di Mesir yang bernama Agatadhmon. Tidak ada keterangan lebih lanjut tentang siapa orang tersebut, kecuali sepenggal riwayat yang dipertanyakan validitasnya mengatakan bahwa dia adalah salah satu Nabi yang diutus untuk orang Mesir dan Yunani.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Idris As. lahir di Babilonia. Kemudian, Nabi Idris As. berguru kepada manusia generasi kedua; Nabi Syits bin Adam As. Sampai Imam Abdul Karim Al-Syahrastani menyebut bahwa Agatadhmon itu merupakan Nabi Syits As. Lebih lanjut, ketika Nabi Idris As., mencapai usia matang, saat itulah Nabi Idris As. diberikan nubuwwah untuk menjaga syariat Nabi Adam As.
Walaupun keterangan di atas kelihatan menarik, sayangnya tidak ada bukti yang benar-benar bisa membuat kita lega. Mungkin, yang bisa membuat kita sedikit lebih tenang adalah pernyataan Ibnu Khaldun yang intinya, berfilsafat merupakan bagian dari tabiat manusia. Karena manusia itu makhluk yang berpikir. Artinya, ketika ada manusia, maka saat itu ada filsafat. Jadi, filsafat itu tidak terbatas pada agama atau suku tertentu. Selama dia manusia, maka dia bisa berfilsafat. Dan itu keciscayaan bagi orang-orang yang berpikir. Ilmu yang digunakan manusia dalam berpikir itulah kemudian diberikan nama “filsafat”.
Dahulu, Romawi dan Persia memiliki perhatian lebih terhadap pengetahuan. Sedangkan, Kaldaniyyun, orang-orang Suryani, dan Qibti, banyak berkutat dalam ilmu sihir dan perbintangan. Pengikut pelajar ilmu sihir ini kemudian mengembangkan ilmu jimat dan jiwa. Kemudian hari, para leluhur orang Yunani dan Persia mengambil ilmu tersebut.
Adapun dalam internal Romawi, mulanya orang-orang Yunani tinggal di sini. Orang Yunani sebagian besarnya dikenal dengan penyembah berhala dan dewa. Sedangkan para ilmuwan mereka disebut dengan filusuf. Para filusuf dalam susunan kasta Yunani berada di tingkatan paling atas. Terkait tentang siapa saja filusuf agung ini, ada yang mengatakan lima‒ini adalah tokoh yang disepakati‒dan sebagian lagi mengatakan delapan. Delapan filusuf itu adalah:
- Empedocles. Dia adalah filusuf paling senior dari lima filusuf besar Yunani. Disebutkan bahwa dia sezaman dengan Nabi Daud As. Riwayat lain menyebutkan bahwa Empedocles belajar filsafat kepada Luqman Al-Hakim.
- Phytagoras. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Phytagoras itu belajar filsafat kepada salah satu murid Nabi Sulaiman As. dan belajar ilmu arsitek di Mesir. Ketika Phytagoras kembali ke Yunani, di sanalah dia mengembangkan ilmu musik.
- Sokrates. Dia banyak terpengaruh dari filsafat Phytagoras dan filusuf yang seangkatan dengannya.
- Plato. Dia juga terpengaruh dari Phytagoras dan banyak belajar kepada Sokrates. Ia baru populer setelah Sokrates wafat.
- Aristoteles. Ia adalah murid dari Plato dan orang yang pertama kali menyusun ilmu mantik dalam bukunya yang bertajuk Organon. Karena itu juga Aristoteles disebut sebagai guru pertama; al-mu’allim al-awwal.
- Thales Miletus
- Anexagoras
- Anaximenes
Lima nama pertama adalah nama filusuf besar yang disepakati, sedangkan tiga terakhir masih diperdebatkan. Kemudian hari, dari filusuf ini, lahirlah nama besar seperti Plotarkhos, Hippokrates, Demokritus, dan lain sebagainya.
Namun, hasil verifikasi para muhakkik, yang pertama kali menjadi peletak dasar filsafat adalah Thales Miletus. Ketika filsafat Thales itu matang, kemudian Abidogles dan Phytagoras mewarisi pemikiran Thales. Setelah itu, barulah Sokrates datang memasuki babak baru filsafat. Lalu, murid setianya, Plato mewarisi Sokrates. Kemudian hari, datanglah Aristoteles sebagai titik mekar filsafat dari para gurunya.
Ada juga sebagian kalangan yang mencoba mengharmonisasikan pandangan ini dengan mungkinnya Nabi Idris As. sebagai filusuf sebelum para filusuf Yunani. Menurut mereka, hal tersebut tidak kontradiktif. Karena mungkin saja Thales menulis filsafat berdasarkan pemikiran dari Nabi Idris As.
Dalam banyak literatur sejarah, disebutkan bahwa filsafat tumbuh di lingkungan Yunani dan Romawi sebelum datangnya Nabi Isa As. Tapi, ketika agama Nasrani sudah resmi di Romawi, akhirnya sebagian karya para filusuf dibakar, sebagiannya lagi disimpan. Hal itu dilakukan karena dianggap bertentangan dengan agama Nasrani.
Ketika beberapa abad sudah berlalu, di lingkungan Dinasti Umayyah lahirlah seseorang yang bernama Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah yang dikenal memiliki kecenderungan tinggi terhadap pengetahuan. Secara latar belakang, ia hidup di lingkungan istana. Ia memiliki ide. Kemudian, ia melakukan sebuah inovasi dengan menghadirkan beberapa filusuf. Para filusuf ini kemudian diperintahkan untuk menerjemahkan karya filusuf Yunani ke dalam bahasa Arab. Ini adalah pertama kalinya filsafat Yunani menyentuh dunia Islam.
Selanjutnya, di era Dinasti Abbasiyah, Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur mengutus beberapa ahli ke negeri Romawi untuk mempelajari dan menerjemahkan litartur filsafat yang “terjebak” di sini. Buku pertama yang di salin di sini adalah Euklides yang berisi tentang ilmu arsitek dan matematika. Sebagian buku ilmu sains juga diterjemahkan di sini.
Ketika Khalifah Al-Ma’mun berkuasa, ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia memiliki mimpi yang turut menjadi motif masifnya penerjemahan karya ilmuwan Yunani ke bahasa Arab. Ketika bermimpi, Khalifah Al-Ma’mun melihat seseorang yang parasnya amat indah, kemudian ia bertanya: “Siapa Anda?” Orang itu menjawab: “Saya adalah Aristoteles.” Aristoteles kemudian bertanya kepada Al-Ma’mun: “Apa itu kebaikan?” Al-Ma’mun menjawab: “Sesuatu yang baik di akal.” Aristoteles bertanya lagi: “Kemudian?” Al-Ma’mun menjawab: “Baik menurut syariat.”
Mimpi ini kemudian diceritakan Al-Ma’mun dalam sepucuk surat yang dikirmkan kepada penguasa Romawi. Dari akivitas surat-menyurat ini kemudian penguasa Romawi luluh dan mengizinkan khalifah mengakses perbendaharaan buku Romawi. Bahkan, pihak Abbasiyah diizinkan memilih karya yang mana saja yang ingin diterjemahkan.
Singkat cerita, ketika filsafat melebarkan sayapnya ke pustaka Arab, ada beragam reaksi dalam internal cendekiawan muslim. Ada yang menerima secara mutlak, ada yang sebaliknya, dan ada juga yang melakukan filterisasi; menerima sebagian dan menolak yang bertentangan dengan agama. Ada juga inovasi yang berkembang saat itu; “memu’allafkan” pemikiran Yunani, seperti yang dilakukan Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.
Adapun yang menolak filsafat paripatetik, didatangkanlah ilmu tandingan untuk mengafirmasi keberadaan Tuhan; ilmu kalam. Jika kita menarik lagi ke belakang, kita akan menemukan kubu muta’akhirîn yang mengharmonisasikan filsafat paripatetik dan ilmu kalam. Tapi, dengan catatan, filsafat tersebut tidak bertentangan dengan agama. Hal tersebut terjadi sampai sekarang.
Nama
Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada salah satu segmen di atas, ilmu ini memiliki dua nama; al-falsafah dan al-hikmah. Pengguna filsafat disebut al-failasuf (filusuf) atau kalau dalam jumlah banyak disebut dengan al-falâsifah. Sedangkan pengguna al-hikmah disebut al-hâkim atau kalau dalam jumlah banyak disebut al-hukamâ’.
Sumber Pengambilan
Sekujur tubuh filsafat itu diambil dari akal. Tapi, bukan hanya sebatas akal tanpa adanya penelusuran rasional yang lebih mendalam. Tentu, “akal” yang dimaksud adalah akal yang sudah melakukan detailisasi secara kritis dan telah melewati pengujian koherensi, sehingga konsistensi kebenarannya tidak perlu dipertanyakan.
Hukum Belajar Filsafat
Pada dasarnya, hukum belajar filsafat itu fardu kifayah. Karena ilmu ini menjadi saksi bisu majunya peradaban dan dalang dibalik mahirnya para teolog melawan syubhat yang menyerang agama Islam. Tapi, hukum fardu kifayah ini memperhatikan dua syarat penting;
Pertama, yang mempelajari filsafat harus orang yang bukan “amatiran” dalam belajar agama. Dalam artian, orang yang mempelajari filsafat, bukan lagi orang yang tidak tahu jumlah rakaat salat, bukan orang yang tidak tahu membaca ayat Al-Qur’an, bukan orang yang kaget dengan deretan istilah agama, tapi mereka yang sudah memiliki “alat filter” dalam dirinya, sehingga bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Kedua, filsafat yang dipelajari bukan yang bertentangan dengan agama. Untuk mengetahui “bertentangan dengan agama” itu tidak mudah. Tidak sebatas melihat siapa personal yang memiliki pemikiran, tapi juga melihat bagaimana penggunaan pemikiran. Karena dalam filsafat ada satu pemikiran yang jika digunakan dengan tepat, maka dia sejalan syariat. Jika tidak, maka akan bertentangan dengan syariat. Untuk mengetahui hal seperti ini, harus memiliki basis yang kuat dalam belajar agama.
Bagaimana dengan kelompok yang mengharamkan filsafat? Di sini ada dua jenis, ada yang mengharamkan filsafat setelah mengetahui filsafat, ada juga yang tidak. Untuk kelompok pertama, mereka mengharamkan filsafat karena filsafat itu sendiri terbagi menjadi dua; praktis dan teoritis. Yang praktis terbagi menjadi filsafat moral, tadbîr al-manzil, dan politik. Dan tidak ada satu pun pembesar agama Islam yang mengadopsi filsafat praktis dari Yunani ini. Inilah yang diharamkan, karena agama memiliki asas untuk hal tersebut dan lebih baik; wahyu. Islam memiliki ilmu akhlak, ilmu tentang keluarga (al-ahwâl al-syakhshiyyah) dan fikih politik.
Adapun yang sifatnya teoritis, tidak semua diharamkan. Ada yang dibutuhkan oleh manusia, seperti ilmu arsitek yang tumbuh dari ilmu eksak dan ilmu kedokteran yang tumbuh dari ilmu alam. Bisa dikatakan, ilmu alam dan eksak tidak sama sekali diharamkan dalam Islam. Namun, nanti yang menjadi sengketa utama adalah ilmu metafisika. Di sini, Syekh Hasan Al-‘Athar, Grand Syekh Al-Azhar ke-16, dalam Hasyiyah ‘ala Al-Maqȗlât Al-Syuja’i, merinci hukum untuk mempelajari filsafat metafisika:
Pertama, jika yang mempelajarinya adalah seorang yang ahli dalam agama, memiliki kecerdasan di atas rata-rata, memahami istilah yang digunakan para sesepuh filusuf, memiliki minat untuk membantai syubhat yang dilontarkan untuk Islam, dan dia bukanlah orang yang mudah dipengaruhi oleh anomali dari luar, kata beliau, jelas orang yang seperti ini tidak haram belajar filsafat. Bahkan, bisa jadi belajar filsafat menjadi fardu kifayah bagi mereka.
Kedua, jika orang yang bersangkutan itu tidak memiliki keahlian dalam agama, tidak memiliki filter minded, mudah terpengaruh, lugu, disabilitas intelektual, bahkan pengetahuan dasar agama saja dia tidak tahu, maka orang semacam ini yang haram belajar filsafat. Karena alih-alih akan mengantarkan dia kepada kebenaran, malahan dia akan semakin jauh dari kebenaran.
Adapun kelompok yang mengharamkan filsafat tanpa mengetahui apa itu filsafat, di sini kita patut bertanya-tanya. Apa gerangan? Apakah hanya sebatas bertaklid buta? Tidak mau tahu? Atau apa? Jika sebatas bertaklid dan yang bersangkutan adalah orang awam, di sini tidak ada masalah. Tapi, jika yang memutuskan hukum haram mempelajari filsafat, tapi tidak mengetahui apa itu filsafat, bagaimana mungkin di sana jatuh hukum haram? Atau pertanyaan lebih gamblangnya, bagaimana hakim memutuskan hukum untuk sebuah perkara yang tidak dia ketahui? Pada akhirnya, orang yang mau mengharamkan filsafat, jika ia ingin bersikap ilmiah, maka dia harus mempelajari filsafat untuk mengetahui sampel atau titik haramnya.
Deretan Pembahasan
Jika mantik dianggap bagian dari filsafat, maka jumlah bab dalam filsafat ada 44 bab. Tapi, jika tidak mengikutsertakan ilmu mantik, filsafat hanya berjumlah 35 bab. Kita akan mengurutkan semua bab itu.
Perlu diketahui, setiap turunan filsafat itu memiliki akar dan turunan lagi. Kita akan mulai dari ilmu metafisika.
Pertama, ilmu metafisika itu memiliki lima akar:
- Al-‘umȗr al-‘ammah
- Afirmasi al-wâjib dan yang berkaitan dengan al-wâjib al-wujȗd
- Ilmu rohani; poinnya mengetahui substansi halus akali yang aktif (al-jauhar al-basîthah al-‘aqliyyah al-fa’alah), yaitu malaikat.
- Ilmu jiwa; ilmu yang membahas tentang jiwa dan roh di balik jasad, baik yang berasal dari al-ajsâm al-falakiyyah (planet) dan al-ajsâm al-thabi’iyyah (makhluk hidup di Bumi).
- Hukum kontigen (al-mumkinât).
Kemudian, ilmu metafisika memiliki dua turunan:
- Membahas tentang bagaimana wahyu bisa terjadi dan bagaimana bentuk akal terindera.
- Ilmu tentang kebangkitan rohani di akhirat.
Kedua, ilmu eksak memiliki empat akar:
- Ilmu aritmatika; ilmu yang mempelajari tentang kekhususan angka dan makna dibalik subjek realitas yang sesuai dengan bilangan itu, sebagaimana yang disebutkan oleh Phytagoras dan Nicomachus dahulu. Nanti, ilmu ini berkembang menjadi: Ilmu wakaf, ilmu matematika khas India, Qibti, dan Negro, dan ilmu hitung jari.
- Ilmu geometri; ini adalah perkembangan dari ilmu arsitek, berdasarkan deretan argumen yang terdapat di buku Euklides. Kemudian, ilmu ini berkembang menjadi ilmu geodesi, ilmu pecahan, ilmu weightlifting (beban massa), ilmu tentang aliran air dan karakter cairan, dan lain sebagainya.
- Ilmu hai’ah atau astrolab; ilmu perbintangan yaang selaras dengan argumen yang disebutkan oleh Klaudius Ptolemaeus dalam Mathematike Syntaxis. Kemudian, ilmu ini akan berkembang menjadi ilmu bangun ruang, ilmu waktu, astronomi, dan ilmu transmutasi.
- Ilmu musik; ilmu yang mempelajari tentang nada, melodi, dan notasi. Ilmu ini akan berkembang menjadi ilmu irama dan ilmu ‘arȗdh.
Kemudian, ilmu eksak memiliki enam turunan:
- Ilmu penggabung dan pemisah.
- Ilmu aljabar dan perbandingan.
- Ilmu geodesi.
- Ilmu magnet.
- Ilmu perhitungan bintang dan gerak planet.
- Ilmu organologi.
Ketiga, ilmu alam memiliki delapan akar:
- Al-‘umȗr al-‘ammah untuk korpus yang meliputi materi (hyle), bentuk, waktu, ruang, dan gerak.
- Ilmu tentang langit dan alam; ilmu tentang susunan, gerak, dan ruang semesta.
- Ilmu tentang penciptaan dan kehancuran (kiamat).
- Ilmu atmosfer.
- Ilmu logam.
- Ilmu tumbuhan.
- Ilmu tentang hewan (dan di sini termasuk ilmu kedokteran).
- Ilmu jiwa manusia.
Kemudian, turunan ilmu alam ada tujuh:
- Ilmu kedokteran.
- Ilmu perbintangan.
- Ilmu firasat.
- Ilmu ekspresi wajah.
- Ilmu jimat; menggabungkan kekuatan langit dan bumi.
- Ilmu sihir (api).
- Ilmu kimia.
Keempat, ilmu mantik memiliki sembilan bab:
- Al-kulliyât al-khamsah.
- Definisi
- Proposisi
- Silogisme
- Argumen demonstratif.
- Argumen retoris.
- Argumen dialektis.
- Argumen syi’ri.
- Argumen sofis.
Kelima, kemudian hari ada bab yang ditambahkan dalam filsafat; ilmu politik. Ini memiliki lima jenis:
- Ilmu politik para Nabi.
- Ilmu politik monarki.
- Ilmu memimpin tentara perang dan para penertib.
- Ilmu politik umum dan khusus; membina rumah tangga.
- Ilmu akhlak.
Dengan ini, selesailah pembahasan seputar “perkenalan” singkat dengan filsafat. Ini akan menjadi pijakan beberapa tulisan selanjutnya seputar filsafat.
Wallahu a’lam.








