Dia “si paling benar” berbicara dengan lancang bahwa yang benar adalah kita tidak boleh terlambat masuk ke kelas, pelakunya bisa kena sangsi. Ruangan seketika hening mendengar suara sepatu pantopel yang memasuki ruangan rapat OSIS. Dia adalah Pak Hadi (nama samaran) selaku Steering Committee.
“Ketua kalian ngomong berkoar-koar bahwa kalian itu harusnya tidak terlambat masuk kelas, sekarang saya tanya, apakah kamu benar-benar sudah menjalankan itu? Perasaan kemarin bapak dapatkan kamu telat juga masuk kelas” Kata pak Hadi sambil menatap sinis si ketua.
Pernyataan awal yang dibuat oleh Ketua OSIS tadi, meski benar dan baik, seketika disikapi secara negatif oleh orang-orang yang hadir karena ucapan Pak Hadi. Dari situ pula dia mendapatkan gelar bermacam-macam dari para anggota OSIS lainnya, “Tcih, si paling benar, dasar munafik” dan gelar-gelar lainnya.
Ilustrasi di atas hanyalah sebagai contoh dari realita maraknya kesalahan berpikir. Di kehidupan masyarakat terkadang lebih parah lagi. Ketika ada seseorang mengemukakan pendapatnya, seketika langsung tertolak mentah-mentah hanya karena kepribadian orang itu dianggap tidak layak untuk didengar. Ketidaklayakan itu biasanya bersumber dari perbedaan golongan ataupun karena penilaian yang kurang baik terhadap orang yang menyampaikan pendapatnya itu.
Ini adalah suatu kekeliruan yang sangat besar, yaitu menjatuhkan suatu pandangan dengan cara menjatuhkan kepribadian yang bersangkutan.
Contoh lain adalah ketika satu orang ustadz memberi nasehat tentang wajibnya jilbab bagi wanita, akan tetapi istrinya tak berjiljab. “Ini ustad nyuruh kita berjilbab, giliran isterinya sendiri ga dididik dengan bener” kata salah satu emak-emak yang cacat pikir. Padahal tidak ada hubungannya antara statement beliau yang mengatakan jilbab itu wajib, dan isterinya sendiri yang tidak berjilbab itu, bisa saja dia sudah menasehati namun si isteri masih tertutup hatinya menerima nasehat dari suaminya. Jangankan ustad, beberapa Nabi dan Rasul pun ada saja yang isterinya membangkang.
Seharusnya bagaimana?
Jika yang disampaikan orang itu bersandar pada argumen yang kuat, tak perlu kita menunjukkan penolakan dengan menyemburkan kata-kata laknat. Kalaupun penolakan itu perlu, maka balaslah dengan argumen tandingan yang logis. Tak ada urusan dengan kepribadian orang itu. Pandangan orang itu satu hal, kepribadian orang itu hal yang lain. Cacat pikir ini disebut “Argumentum ad hominem” (rujukannya adalah buku Logical Fallacy karya M. Nuruddin)
Cacat pikir jenis ini biasanya dikemas dalam empat hal; pertama, mencela kepribadian. Kedua, menyinggung keadaan/kondisi yang mengitari orang tersebut. Ketiga, menyatakan kata “kamu juga”. Keempat, meracuni sumur (membuat kesan agar orang lain percaya bahwa yang bersangkutan salah).
Tentunya, keempat sikap tersebut sangat dihindari oleh orang-orang bijak. Cara berpikir seperti itu, selain tidak objektif, juga sangat jauh dari nilai akhlak dan etika. Meskipun kata salah satu teman diskusi kami, melakukan evaluasi/perbaikan diri itu ahsan (lebih baik) daripada membiarkan diri kita dinilai buruk oleh orang lain. Apalagi dalam asas dakwah, kepribadian da’i merupakan satu faktor pendukung sampainya dakwah ke hati pendengar, meskipun kita sering mendengar ungkapan “lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan”.
Terakhir, penulis berpesan untuk diri sendiri dan kepada para pembaca yang budiman, bahwa kita semua sedang berproses menjadi baik, dan setiap proses hendaknya kita saling mendukung dan menasehati satu sama lain, bukan merasa lebih tinggi ataupun menjadi “Si Paling Benar”.








