ChatGPT adalah sebuah model bahasa berbasis teks yang dikembangkan oleh OpenAI. Model ini merupakan bagian dari keluarga Generative Pre-trained Transformer (GPT) dan dirancang untuk menghasilkan teks yang berkualitas dalam berbagai bahasa dan gaya, serta dapat digunakan untuk berbagai tugas seperti menjawab pertanyaan, membuat konten, dan berinteraksi dengan pengguna.
Mekanisme kerja ChatGPT didasarkan pada pembelajaran mesin yang mendalam (deep learning) menggunakan jaringan saraf tiruan. Model ini dilatih pada sejumlah besar data teks dari internet untuk memahami bahasa dan konteks, sehingga dapat menghasilkan respon yang sesuai dengan input yang diberikan. ChatGPT telah melalui beberapa iterasi pengembangan sejak peluncuran pertamanya, termasuk GPT-3.5 yang menjadi dasar pengetahuannya, dan telah digunakan dalam berbagai aplikasi seperti Chatbot, asisten virtual, dan alat generasi teks untuk berbagai keperluan.
Apa yang Anda baca dalam dua paragraf di atas merupakan hasil generate dari ChatGPT 3.5. Bahasanya sangat natural, bukan? Inilah yang menjadi daya tarik dari ChatGPT dan menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia sejak awal 2023. Tidak sedikit juga orang yang menjadikannya sebagai konsultan dalam banyak bidang, tak terkecuali bidang agama dan akidah secara khusus.
Kali ini saya sedikit “iseng” menguji ChatGPT ini dalam bidang ilmu akidah. Seberapa akurat dan seperti apa konsekuensi logis dari jawaban yang diberikan ChatGPT.
Objek yang digunakan kali ini adalah ChatGPT 3.5. Saya akan memunculkan bagaimana dialog saya dengan ChatGPT ini.

Dialog 1 (Introduction)
Saya: Wahai ChatGPT! Silahkan deskripsikan diri Anda, mulai dari kemampuan, bidang ahli, batas data, sampai metode Anda dalam menyusun argumen logis nan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena saya akan memberikan beberapa pertanyaan terkait ilmu akidah yang cukup substansial, khususnya dalam mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah.
ChatGPT: Saya adalah ChatGPT, sebuah model bahasa buatan berbasis arsitektur GPT-3.5 yang dikembangkan oleh OpenAI. Saya adalah program komputer yang dirancang untuk memahami dan menghasilkan teks dalam berbagai bahasa. Namun, perlu dicatat bahwa saya hanyalah program komputer dan tidak memiliki keyakinan, emosi, atau pandangan pribadi.
Kemampuan saya meliputi:
- Pemahaman bahasa: Saya mampu memahami dan memproses teks dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
- Pengetahuan: Saya memiliki pengetahuan hingga batas data pemotongan saya pada September 2021, yang mencakup berbagai topik seperti ilmu pengetahuan, sejarah, agama, dan banyak lagi.
- Logika dan argumen: Saya dapat menyusun argumen logis dan ilmiah berdasarkan informasi yang ada dalam batas pengetahuan saya.
Dalam menyusun argumen logis dan ilmiah, saya mengikuti prinsip-prinsip dasar berikut:
- Identifikasi premis: Saya akan mengidentifikasi premis atau asumsi dasar dari suatu argumen.
- Penyusunan argumen: Saya akan merangkai premis-premis tersebut untuk membentuk argumen yang logis.
- Penggunaan bukti: Saya akan mencoba menyertakan bukti atau referensi yang mendukung argumen tersebut, jika memungkinkan.
- Menghindari kesalahan logika: Saya berupaya menghindari kesalahan logika seperti pemalsuan, pengabaian bukti, atau pemindahan beban bukti.
- Keterbukaan terhadap pertentangan: Saya akan mengakui adanya perspektif yang berbeda dan mencoba menyampaikan argumen dengan objektif.
Namun, perlu diingat bahwa dalam hal keyakinan agama, pendekatan saya bersifat informatif dan berdasarkan pengetahuan yang ada. Saya tidak memiliki keyakinan pribadi atau agama, dan tujuan saya adalah memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan pengetahuan yang saya miliki. Silakan ajukan pertanyaan Anda tentang ilmu akidah dalam mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah, dan saya akan mencoba memberikan informasi sebaik mungkin sesuai dengan pengetahuan saya.
Catatan
Kita bisa lihat bersama pengakuan ChatGPT, di sana ada beberapa poin yang masuk dalam kategori “rawan” karena sangat memungkinkan ChatGPT tidak memenuhi prosedur dalam memberikan jawaban dalam ranah agama, khususnya dalam bidang akidah. Di antara bagian yang tergolong rawan itu adalah:
Pertama, batas data yang dimiliki ChatGPT adalah September 2021. Sebetulnya, ini tidak berpengaruh secara esensial dalam ilmu akidah, karena apa yang ada dalam ilmu akidah, sudah dipaparkan ratusan tahun lalu secara fundamental oleh para pakar. Hanya saja, kalau berbicara dalam masalah fikih, ada hal yang tidak bisa dijawab oleh ChatGPT ini, terlebih jika penanya tidak memperhatikan limit data dari ChatCPT sendiri.
Kedua, ChatGPT menyandarkan informasinya kepada bacaan atau informasi di internet secara umum. Ini berarti sumber informasi ChatGPT kebanyakan dari bacaan tertentu, tidak melalui metodologi yang diakui oleh para ahli yang notabenenya berangkat dari malakah. Sehingga, kesimpulan yang dihasilkan memungkinkan tidak sesuai dengan realitas atau jawaban yang diinginkan oleh para pakar.
Ketiga, ChatGPT mengakui bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan informatif. Setelah itu, ia juga mengklaim bahwa akan memberikan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Sayangnya, mungkin ChatGPT memberikan informasi yang lengkap dengan referensinya, tapi belum tentu menyajikan informasi itu menggunakan argumen atau malakah yang bisa dipertanggungjawabkan. Ini baru berbicara mengenai asas yang dipegang, belum melihat bagaimana jawaban yang akan dipaparkan nanti.
Dialog 2 (Esensi Ilmu Akidah)
Saya: Baik, jadi di sini Anda mengakui bahwa dalam hal agama, Anda memiliki pendekatan yang bersifat informatif. Ini berarti Anda memaparkan sesuatu berdasarkan artikel, bacaan, atau teks tertentu yang tersimpan dalam database internet. Jadi, dalam beberapa literatur ilmu akidah atau ilmu kalam, ada banyak definisi tentang ilmu tersebut. Ada yang mengatakan bahwa ilmu tersebut merupakan produk budaya, ilmu tentang perbedaan pendapat antar golongan, ilmu tentang doktrin Islam, dan lain sebagainya. Yang menjadi pertanyaan, dari segenap banyaknya definisi itu, paparkan definisi yang paling esensial dengan ilmu tersebut dan paparkan alasannya secara detail!
ChatGPT: Tentu, definisi ilmu akidah (ilmu kalam) dapat bervariasi tergantung pada sudut pandang dan tradisi pemikiran yang digunakan. Namun, satu definisi yang esensial dan dapat digunakan sebagai dasar pemahaman adalah sebagai berikut:
Ilmu Akidah (Ilmu Kalam): Ilmu akidah adalah cabang ilmu dalam Islam yang berfokus pada penyelidikan, pembahasan, dan penjelasan aspek-aspek keyakinan dasar dalam agama Islam. Ini mencakup pemahaman tentang sifat-sifat Allah, takdir, malaikat, kitab-kitab suci, nabi-nabi, hari akhir, dan keyakinan-keyakinan fundamental lainnya yang membentuk inti ajaran Islam.
Alasan mengapa definisi ini dianggap esensial adalah sebagai berikut:
- Pentingnya Keyakinan: Ilmu akidah adalah bagian integral dari agama Islam karena melibatkan keyakinan yang menjadi dasar bagi praktik ibadah dan perilaku seorang Muslim. Keyakinan dalam Allah, hari akhir, nabi-nabi, dan elemen-elemen lainnya adalah landasan bagi praktik agama.
- Penyelidikan dan Pemahaman: Ilmu akidah melibatkan penyelidikan dan pemahaman mendalam tentang keyakinan-keyakinan tersebut. Ini melibatkan diskusi dan argumentasi yang mendalam untuk memahami esensi dan implikasi dari keyakinan-keyakinan tersebut.
- Ketidaksetujuan dan Perbedaan: Ilmu akidah juga mencakup pemahaman tentang perbedaan pendapat dan kontroversi yang mungkin muncul dalam hal-hal akidah. Oleh karena itu, ilmu ini memungkinkan untuk menyelidiki dan menjawab pertanyaan-pertanyaan atau keraguan yang mungkin timbul dalam hal keyakinan.
Dengan demikian, ilmu akidah adalah upaya untuk memahami, menjelaskan, dan mempertahankan keyakinan-keyakinan fundamental dalam Islam, dan ini penting karena keyakinan tersebut membentuk dasar agama Islam. Ilmu akidah juga berfungsi sebagai alat untuk menjawab pertanyaan, mengatasi keraguan, dan memahami perbedaan pendapat yang mungkin muncul dalam hal keyakinan.
Saya: Dari frasa yang Anda gunakan di awal kalimat “Ilmu Akidah (Ilmu Kalam)”, ada konsekuensi logis atau kesan kuat jika tidak ingin dikatakan konsekuensi logis bahwa ilmu akidah adalah ilmu kalam. Yang menjadi pertanyaan, apakah kesan itu benar? Jika tidak, apa perbedaannya secara fundamental?
ChatGPT: Anda benar, frasa “Ilmu Akidah (Ilmu Kalam)” dalam konteks tertentu bisa memunculkan kesan bahwa keduanya adalah sinonim. Namun, ada perbedaan fundamental antara ilmu akidah dan ilmu kalam, meskipun keduanya terkait erat dalam konteks pemahaman keyakinan dalam Islam.
Perbedaan Utama:
- Ilmu Akidah (Aqidah): Ilmu akidah adalah disiplin yang berkaitan dengan keyakinan fundamental dalam Islam. Ini mencakup keyakinan tentang Allah, takdir, nabi-nabi, kitab-kitab suci, hari akhir, dan elemen-elemen dasar lainnya dalam agama. Ilmu akidah berfokus pada pengajaran, pemahaman, dan pengamalan keyakinan-keyakinan ini. Ini adalah komponen inti dalam agama dan digunakan dalam praktik ibadah sehari-hari.
- Ilmu Kalam (Ilmu Teologi): Ilmu kalam, di sisi lain, adalah cabang filosofi Islam yang berkaitan dengan rasionalisasi dan penjelasan keyakinan agama, terutama dalam menghadapi tantangan rasional atau filosofis. Ilmu kalam mencoba menjelaskan keyakinan-keyakinan agama dengan menggunakan argumen-argumen rasional dan logis. Ini melibatkan diskusi mendalam tentang sifat-sifat Allah, takdir, keadilan, dan masalah-masalah filsafat lainnya yang berkaitan dengan keyakinan agama.
Jadi, sementara ilmu akidah adalah tentang apa yang seharusnya dipercayai dalam Islam dan digunakan dalam praktik agama, ilmu kalam lebih menitikberatkan pada pemahaman filosofis dan rasional tentang keyakinan-keyakinan tersebut. Ilmu kalam mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan kompleks dengan alat-alat filosofis dan logis, sementara ilmu akidah lebih bersifat normatif dan pedagogis dalam menjelaskan keyakinan fundamental kepada umat Islam. Meskipun keduanya terkait, tujuan dan pendekatan keduanya berbeda.
Catatan
Pertama, definisi yang diberikan oleh ChatGPT terkesan tidak nyambung ketika disandingkan dengan alasan dan perbandingan terhadap ilmu kalam. Bagian awal, ChatGPT menjelaskan bahwa ilmu akidah itu memiliki tiga fokus; 1) Penyelidikan, 2) Pembahasan, dan 3) Penjelasan dasar dalam agama Islam. Dasar agama Islam itu mencakup sifat Allah, takdir, malaikat, kitab suci, nabi, hari akhir, dan keyakinan fundamental lainnya.
Tapi, ketika menarik ke bagian alasannya, ChatGPT menyebut ada tiga poin. Di antara dua poin yang menjadi sengketa adalah pentingnya keyakinan dan perbedaan. Apa kaitan pentingnya keyakinan dengan alasan pemilihan definisi itu sebagai definisi paling esensial? Kemudian, sebagaimana yang ditegaskan dalam definisi di atas, fokusnya hanya menguraikan, bukan membandingkan satu pemahaman dengan pemahaman yang lain. Lalu, dari mana ChatGPT menarik kesimpulan bahwa perbedaan itu menjadi alasan dari pemilihan definisi itu? Ini adalah hal tak berdasar.
Poin yang bisa diterima hanyalah poin kedua, bahwa ilmu akidah ini melibatkan penyelidikan (kalau yang dimaksud penyelidikan terhadap pemahaman akidah maka bisa diterima) dan pemahaman. Karena ini menjadi fungsinya.
Kedua, definisi yang dibuat oleh ChatGPT tidak menggunakan kalimat efektif. Semakin singkat, padat, komprehensif, dan jelas sebuah definisi, maka semakin berkualitas definisi itu. Selain itu, ChatGPT luput dari kaidah ilmu akidah yang harus diketahui segenap mukallaf agar keimanannya benar. Karena ini bagian esensial juga dalam ilmu akidah. Ini sebagaimana yang ditulis oleh Syekh Hasan Syafi’i, Pakar Ilmu Akidah, dalam Al-Madkhal ila ‘Ilm Al-Kalâm.
Antara ilmu akidah dan ilmu kalam, ada yang menyamakan. Sehingga ketika disebut ilmu akidah, maka yang dimaksud ilmu kalam juga. Begitu pula sebaliknya. Ada juga yang membedakannya, seperti Imam Al-Tafatazani, Teolog Otoritatif Ahlussunnah, dalam Syarh Al-Maqâshid bahwa ilmu akidah itu bersifat pedagogis, sedangkan ilmu kalam bersifat argumentatif. ChatGPT hanya memaparkan bagian kedua ini, tidak menyentuh pendapat pakar yang menyamakannya.
Jika dikatakan ChatGPT hanya menjawab sesuai permintaan klien, maka ini akan membuka peluang baru untuk sebuah masalah. Karena ketika dalam ranah akademik, ada beberapa pendapat yang harus dipaparkan. Sedangkan, jika disebutkan hanya satu, melupakan bagian lain yang tidak kalah penting, ini akan membuka kesan bahwa satu-satunya yang bisa dipegang adalah pendapat yang menyatakan bahwa kedua ilmu itu memiliki pendekatan berbeda. Paling tidak, seharusnya ChatGPT meninggalkan sebuah kesan bahwa terkait soal ini ada perbedaan pandangan.
Ketiga, ketika seorang pakar memilih definisi yang menurutnya paling tepat, mereka akan memaparkan definisi lain dan membuktikan ketidaktepatannya. Di sini ChatGPT hanya memberikan klaim, pun alasan yang kemukakan tidak seluruhnya sinkron.
Keempat, ketika ilmu kalam diidentikkan dengan akal yang kental, itu keliru. Sebab, dalam Ahlussunnah wal Jama’ah, akal dan nash itu seimbang; sesuai dengan porsinya masing-masing. Benar bahwa banyak pembahasan ketuhanan berlandaskan dengan argumen filosofis, tapi bukan berarti keberadaan argumen filosofis itu meniadakan peran nash.
Hal tersebut bisa kita saksikan dalam banyak kitab kalam. Awal-awal pembahasan selalu terdiri atas ilmu rasional sampai filsafat ontologi. Tapi, ketika sampai bagian pembahasan masalah gaib, akal hanya mentok untuk memungkinkan adanya hal gaib, alih-alih mengatakan konsep gaib itu paradoks. Selebihnya, ulama banyak mengandalkan nash.
Dialog 3 (Eksistensi Tuhan)
Saya: Baik, sekarang dalam persoalan eksistensi Tuhan. Di sana ada banyak argumen. Ada argumen teleologis, keteraturan, kontigensi alam, pergerakan, dan lain sebagainya. Dari banyak argumen yang dilemparkan oleh para filusuf dan teolog, mana argumen yang paling mendekati kebenaran dan berkaitan secara logis dalam pembahasan ilmu akidah sampai akhir?
ChatGPT: Pertanyaan tentang argumen yang paling mendekati kebenaran dalam konteks eksistensi Tuhan adalah subjektif dan dapat bergantung pada sudut pandang individu. Para filosof dan teolog telah mengembangkan berbagai argumen untuk membuktikan atau mendekati eksistensi Tuhan, dan beberapa argumen yang sering dibahas dalam ilmu akidah adalah:
- Argumen Kalam (Cosmological Argument): Argumen ini mencoba membuktikan eksistensi Tuhan berdasarkan sifat kontingensi alam semesta. Argumen kalam berpendapat bahwa alam semesta memiliki awal atau suatu titik saat dimulai (Big Bang), dan karena itu, harus ada sesuatu yang tidak tergantung (Tuhan) yang menjadi penyebabnya.
- Argumen Teleologi (Teleological Argument): Argumen ini menekankan rancangan dan keteraturan dalam alam semesta. Para pemegang argumen teleologi berpendapat bahwa keberadaan rancangan dan kompleksitas dalam alam semesta menunjukkan adanya seorang Pencipta yang merancang semuanya.
- Argumen Moral (Moral Argument): Argumen ini menghubungkan eksistensi Tuhan dengan asal-usul dan keberlakuan nilai-nilai moral. Ini berpendapat bahwa sumber nilai-nilai moral yang objektif adalah Tuhan, dan eksistensi nilai-nilai ini menunjukkan eksistensi Tuhan.
- Argumen Ontologis (Ontological Argument): Argumen ini mencoba membuktikan eksistensi Tuhan berdasarkan pemahaman tentang konsep Tuhan. Lebih khusus, argumen ontologis mencoba menunjukkan bahwa eksistensi Tuhan adalah konsekuensi dari definisi yang sempurna tentang Tuhan.
- Argumen dari Pengalaman Keagamaan (Religious Experience Argument): Beberapa orang berpendapat bahwa pengalaman pribadi keagamaan, seperti pengalaman mistik atau rohani, mendukung keyakinan akan eksistensi Tuhan.
Tidak ada konsensus tunggal dalam hal argumen yang “paling mendekati kebenaran” dalam ilmu akidah. Beberapa orang mungkin merasa bahwa satu argumen lebih persuasif daripada yang lain berdasarkan pandangan mereka sendiri. Pilihan argumen ini dapat sangat dipengaruhi oleh keyakinan, pengetahuan, dan pemahaman individu tentang agama dan filsafat.
Penting untuk diingat bahwa argumen-argumen ini telah menjadi subjek perdebatan dan kritik selama berabad-abad, dan tidak ada argumen yang dianggap secara universal memecahkan pertanyaan tentang eksistensi Tuhan. Masing-masing argumen memiliki kekuatan dan kelemahan, dan pemahaman pribadi dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan mana yang paling mendekati kebenaran bagi seseorang.
Catatan
Pertama, di bagian awal dialog ketiga ini, ChatGPT mengklaim bahwa tentang benar atau tidaknya sebuah argumen sifatnya subjektif dan bergantung kepada pandangan orang lain. Ini adalah hal yang sangat problematik. Kenapa? Karena ini akan membuka peluang untuk menyatakan bahwa agama Islam itu sifatnya dogmatis dan kebenaran itu relatif. Sudah ada satu tulisan yang pernah dibuat untuk membantah klaim dogmatisasi agama itu.
Adapun jika kebenaran dikatakan sebagai sesuatu yang relatif, maka timbul pertanyaan. Apakah klaim bahwa kebenaran relatif itu sifatnya mutlak? Jika sifatnya mutlak, maka ini sudah membatalkan pandangan mereka sendiri. Sedangkan jika dikatakan relatif, maka pandangan itu sendiri memuat kelemahan.
Memang benar bahwa semua argumen memiliki celah untuk dimasuki kritik. Tapi, bukan berarti semua yang dimasuki kritik itu bisa salah. Karena kita tidak bisa menafikan bahwa ada orang yang mengkritik, tapi kritikannya tidak tepat sasaran. Tidak ada kelaziman bahwa ketika sesuatu disebut argumen pasti benar, sebagaimana tidak ada keniscayaan ketika argumen memiliki celah dikritik pasti salah. Begitu juga adanya kritik, bukan berarti kritik itu benar dan kritik itu salah. Pada dasarnya pengkritik dan yang dikritik berstatus netral. Bukan posisi itu yang membuat mereka menjadi benar atau salah. Tapi, esensi argumen mereka, apakah sesuai dengan standar kebenaran atau tidak.
Kedua, di sana ada lima argumen yang menurut ChatGPT sering diulang, yaitu argumen kosmologi, teleologi, moral, ontologis, dan eksperimental. Kalau dikaitkan dengan penjelasan ChatGPT di awal dan akhir, tidak ada yang kuat. Namun, masing-masing argumen itu bisa dibahas secara objektif. Karena bukan berarti ketika semuanya berstatus argumen maka itu meniscayakan semuanya berada pada taraf kebenaran yang sama.
Argumen yang dideret oleh ChatGPT kebanyakan argumen yang bersifat retoris dan apologis (jadaliy wa khitâbiy) dibanding demonstratif (burhâniy). Dua pertama adalah argumen demonstratif, sementara sisanya hanyalah apologi dan retoris. Mengapa? Karena kekuatan premis yang dipakai berbeda. Argumen demonstratif itu merujuk pada hukum akal yang bermuara pada keniscayaan akal, sehingga tidak ada ruang untuk membantah lagi. Sedangkan sisanya hanya berfokus pada bagaimana cara membuat audiens terdiam dan tenang saja, alih-alih membuktikan. Karena ketenangan, tidak harus bersamaan dengan tersingkapnya kebenaran.
Misalnya, argumen moral yang tendensinya merujuk kepada sumber moral itu sendiri. Muara argumennya adalah Tuhan sebagai sumber moral. Timbul pertanyaan, kenapa Tuhan yang belum disepakati keberadaannya itu tiba-tiba menjadi kesimpulan bahwa Tuhan adalah sumber moral itu? Begitu juga argumen lain yang senada dengan argumen ini, yakni argumen keadilan. Menurut argumen ini, Tuhan harus ada karena ada banyak kezaliman di dunia ini yang tidak terjawab. Karena hukum moral dan keadilan tidak bisa menerima itu.
Seandainya ada orang ateis, maka dia akan membantah. Kurang lebih bantahannya tidak jauh-jauh untuk membuktikan bahwa moral itu subjektif. Orang berbeda-beda dalam taraf moral. Ada yang mendalam, ada juga tidak. Kalau moral atau keadilan itu yang menjadi epistemologi akan keberadaan Tuhan, berarti eksistensi Tuhan itu subjektif. Dan kesimpulan ini mustahil dalam agama Islam. Hal yang sama berlaku pada argumen ontologis dan eksperimental itu. Alih-alih membawa kepada kebenaran objektif, malahan membawa kepada kebenaran pragmatis.
Sedangkan dua argumen lainnya, bersifat demostratif, karena bersandar pada hukum akal yang objektif, yaitu hukum kausalitas. Tidak mungkin ada sebab tanpa ada akibat. Seperti dengan kontigensi alam, apakah alam ini sekonyong-konyong ada? Tentu ada penyebabnya. Dan rentetan sebab-akibat itu harus bermuara pada sebab yang tidak diakibatkan. Itulah Tuhan. Tentang kenapa Tuhan tidak diciptakan, karena jika Tuhan diciptakan akan bermuara pada dua hal, kalau bukan daur ya tasalsul. Dua hal ini mustahil dan sudah kita jelaskan pada salah satu tulisan. Antiseden apapun yang bermuara pada kemustahilan, maka antiseden itu juga mustahil.
Ketiga, ChatGPT menggantungkan kebenaran klaim argumen mendekati kebenaran itu kepada konsensus tertentu. Apa kaitannya kebenaran dengan konsensus? Tidak ada. Kalau kita baca lebih lanjut, ChatGPT mendasarkan ketiadaan konsensus dengan sebuah argumen “Beberapa orang mungkin merasa bahwa satu argumen lebih persuasif daripada yang lain berdasarkan pandangan mereka sendiri.” Lagi-lagi, mengarah kepada subjektivitas.
Kebenaran itu sifatnya independen. Tidak bergantung kepada banyak atau tidaknya orang yang sepakat. Seperti ketika ada orang mengingkari Tuhan, apakah kita bisa menyimpulkan bahwa keberadaan Tuhan itu subjektif karena ada orang yang mengingkarinya? Jelas tidak. Keberadaan Tuhan satu hal, sementara anggapan manusia yang bersifat subjektif itu adalah hal yang lain. Ini sudah dibuktikan pada salah satu tulisan yang lalu.
Keempat, ChatGPT mengklaim:
“…dan tidak ada argumen yang dianggap secara universal memecahkan pertanyaan tentang eksistensi Tuhan. Masing-masing argumen memiliki kekuatan dan kelemahan, dan pemahaman pribadi dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan mana yang paling mendekati kebenaran bagi seseorang.”
Benarkah tidak ada argumen secara universal yang dianggap memecahkan pertanyaan eksistensi Tuhan? Sayangnya, fakta mengamini kebalikannya. Kalau kita membuka deretan kitab ilmu kalam, kita akan menemukan argumen kosmologi sebagai argumen sentral lagi demonstratif dalam pembuktian keberadaan Tuhan. Salah satu sampelnya adalah tulisan Imam Al-Sanusi dalam Umm Al-Barâhin:
أما برهان وجوده تعالى: فحدوث العالم…
“Adapun argumen demonstratif akan keberadaan Allah adalah kontigensi alam…” (Al-Sanusi, Umm Al-Barâhin, Damaskus: Dar Al-Taqwa, Hal 92).
Lebih detailnya, Imam Adhuddin Al-Iji, Teolog Besar Ahlussunnah, dalam Al-Mawâqif juga menganggap kontigensi alam sebagai argumen sentral akan keberadaan Tuhan. Ini sebagaimana yang telah diuraikan secara rinci dalam salah satu tulisan. Pun, setiap gugatan terkait argumen ini telah dijawab oleh para ulama hingga hari ini.
Dialog 4 (Objek Kajian Ilmu Akidah)
Saya: Ada bagian dari pertanyaan yang belum Anda jawab, yaitu “..berkaitan secara logis dalam pembahasan ilmu akidah sampai akhir?” Kalau Anda menganggap sudah menjawabnya, bukan itu yang saya maksud. Saya akan ubah pertanyaannya. Ilmu akidah kan berisi banyak bab. Dalam penyusunan ilmu, kaitan antara satu bab dengan bab lain harus memiliki keterkaitan logis. Pertanyaannya, dari segenap argumen yang Anda sebutkan, mana argumen yang memiliki keterkaitan logis dengan seluruh bab dan pembahasan ilmu akidah?
ChatGPT: Saya memahami pertanyaan Anda sekarang. Dalam konteks ilmu akidah yang mencakup berbagai bab dan topik, argumen yang memiliki keterkaitan logis dengan seluruh ilmu akidah adalah Argumen Kalam (Cosmological Argument). Alasan utama untuk ini adalah karena argumen kalam berfokus pada asal usul alam semesta dan eksistensi Tuhan sebagai penyebabnya. Ini berhubungan langsung dengan pertanyaan fundamental dalam ilmu akidah, yaitu eksistensi Allah sebagai pencipta alam semesta, salah satu konsep paling dasar dalam keyakinan Islam dan banyak agama lainnya.
Argumen kalam dapat membantu mendirikan dasar pemikiran untuk banyak konsep dalam ilmu akidah, termasuk:
- Tawhid (Keesaan Allah): Argumen kalam menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak tergantung yang menjadi penyebab alam semesta, yang mendukung konsep tawhid, yaitu keesaan Allah.
- Takdir (Predestinasi): Konsep takdir dalam ilmu akidah juga berkaitan dengan argumen kalam. Jika ada penyebab alam semesta, maka konsep takdir, atau apa yang telah ditentukan oleh Tuhan, menjadi relevan.
- Penciptaan: Argumen kalam langsung berkaitan dengan konsep penciptaan alam semesta oleh Allah.
Sebagai hasilnya, argumen kalam dapat dianggap sebagai fondasi logis yang memungkinkan pembahasan ilmu akidah secara lebih mendalam. Namun, penting untuk diingat bahwa ilmu akidah melibatkan berbagai bab dan topik yang lebih rinci, dan berbagai argumen dapat digunakan untuk mendukung berbagai aspek dari keyakinan agama. Selain itu, beberapa orang mungkin lebih memilih argumen lainnya berdasarkan pemahaman dan keyakinan mereka sendiri.
Catatan
Pada dialog sebelumnya ada banyak argumen yang disebutkan, di antaranya argumen kosmologi atau kontigensi alam. Menurut ChatGPT, inilah argumen yang berkaitan dengan esensi ilmu akidah. Hal ini disepakati. Akan tetapi, ketika ChatGPT memaparkan alasannya, ada hal yang janggal. Mari kita analisa dengan baik pernyataan ChatGPT:
“Ini berhubungan langsung dengan pertanyaan fundamental dalam ilmu akidah, yaitu eksistensi Allah sebagai pencipta alam semesta, salah satu konsep paling dasar dalam keyakinan Islam dan banyak agama lainnya.”
Di sini, ChatGPT hanya berfokus kepada isu eksistensi Tuhan, tanpa menyebutkan isu kenabian (nubuwwât) dan gaib lainnya (sam’iyyât). Padahal, tiga hal ini merupakan objek kajian paling esensial dalam ilmu akidah. Ia juga tidak menegaskan poin keterkaitan antara satu bab dengan bab lainnya. Misalnya, masalah ketuhanan (ilahiyyât) itu berkaitan erat dengan kenabian. Karena ketika ada Nabi, maka di sana pasti ada yang mengutus Nabi itu. Begitu juga, ketika kita sudah mengimani keduanya, sebagai konsekuensi logis, kita akan mengamini hal-hal gaib yang datang dari keduanya, seperti persoalan akhirat dan lain sebagainya.
Epilog
Ada banyak percobaan yang membuktikan bahwa ChatGPT tidak begitu bisa diandalkan, dalam persoalan akidah secara khusus. Sampai keluar Putusan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama 2023 tentang Artificial Intelligence. Di antara isi putusannya adalah haram mengamalkan jawaban dari AI Natural Language Prosessing (NLP). Di antara alasannya adalah kebenarannya tidak terjamin dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tapi, menjadi fardu kifayah hukumnya mengembangkan AI NLP yang ditujukan untuk menyajikan konten keislaman otoritatif untuk masyarakat yang tidak bisa lagi terlepas dari perkembangan teknologi. Tentu dengan syarat data yang dijadikan landasan adalah tulisan dari seorang mufti yang kredibel.
Hal-hal yang dijadikan catatan di atas, hanyalah hal yang saya anggap penting dan sudah cukup untuk melihat esensi dari jawaban yang diberikan ChatGPT dalam bidang akidah, apakah akurat dengan yang diajarkan oleh para ulama dari masa ke masa atau tidak.
Terlepas dari itu, ChatGPT juga bisa memecahkan beberapa hal, seperti persoalan coding, rumus eksak yang ribet, bahkan untuk website management. Web tempat Anda membaca sekarang, banyak terbantu oleh ChatGPT. Ini berarti kita perlu menggunakan ChatGPT ini dengan bijak; sesuai pada tempatnya. Ketika ada persoalan akidah atau agama secara umum, maka ulama adalah tempat yang tepat untuk berkonsultasi.
Wallahu a’lam








